Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Daftar Menu

BERAPA

Bahaya Mengintai Dibalik Jus Buah

Barry Popkin, seorang pakar nutrisi terkemuka dari Universitas North Carolina, memperingatkan tentang bahaya tersembunyi dalam minuman jus buah dan smoothie (jus buah yang di campur bahan lain, seperti coklat kacang dan susu, agar lebih kental), karena kandungan

Membaca al-Qur'an Redam Nyeri Operasi

Membaca al-Qur'an dengan tartil selama 10 menit, dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu yang melahirkan lewat operasi Ceaesar. Demikian menurut hasil penelitian oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhmmadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2009, Hasto Andi Irawan.

Aborsi Meningkatkan Resiko Kematian Wanita

Sebuah penelitian di Denmark menyimpulkan, perempuan yang pernah melakukan aborsi mengalami peningkatan risiko kematian saat melahirkan. Studi yang dimuat di Eurapean Journal of Public Health Nopember 2012 itu mengamati tingkat kematian saat melahirkan selama lebih dari 25 tahin di Denmark..

PAUS BIRU MAKAN DENGAN "TANGAN KANAN"

Paus biru, mamalia terbesar di bumi, lebih sering menyergap buruan dengan sisi kanannya ketika mereka menyantap makanan di laut. Itu artinya, hewan tersebut seperti manusia yang menggunakan tangan kanan untuk memasukkan makanan ke mulut.

Akhir Klaim "Ayam dan Telur"

Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur? Pertanyaan seperti ini sudah terjadi sejak berabad - abad. Tapi kini, jawabanya sudah tersedia. Para ilmuan bulan lalu mengklaim telah memecahkan teka - teki tersebut. Jawabanya, kata mereka, adalah ayam.

Rabu, 11 Mei 2016

Ketika ISIS dan Taliban Bersaing di Afghanistan

 Kelompok Negara Islam, juga dikenal sebagai ISIS, adalah pendatang baru di Afghanistan. ISIS menyatakan kehadirannya dengan membentuk cabang Khorasan pada bulan Desember 2014. Deklarasi itu datang pada saat yang rentan bagi Taliban, yang baru saja mengkonfirmasi kematian pendiri dan pemimpin spiritualnya, Mullah Muhammad Umar. Mullah Akhtar Manshur dipilih untuk menggantikannya, dengan dukungan dari pemimpin global Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri.
Sebagai pendatang baru, daya tarik utama bagi orang-orang untuk bergabung dengan ISIS adalah ingin menjadi bagian dari kekhalifahan. Untuk kelangsungan kelompok, ISIS perlu mengontrol wilayah dan menang atas dukungan penduduk setempat. Tetapi strategi ISIS ini belum efektif di Afghanistan. Taliban yang telah mengontrol wilayah sejak lama masih dominan. Mereka yang bergabung dengan ISIS kebanyakan adalah orang-orang yang membelot dari Taliban, karena tergiur deklarasi khilafah. Bagaimana pun Taliban telah membangun sistem cukup lama.
Taliban memerintah hampir seluruh wilayah Afghanistan pada 1996-2001. Kontrol Taliban berlanjut sampai AS memimpin invasi untuk menggulingkannya dan membentuk pemerintahan boneka di Kabul. Sejak itu, tujuan utama Taliban adalah menggulingkan pemerintah saat ini dan menyingkirkan pasukan asing. Setelah Presiden Barack Obama mengumumkan pada 2014 bahwa AS akan perlahan-lahan akan menarik pasukannya dari Afghanistan, kelemahan pemerintahan Kabul memungkinkan Taliban untuk mengkonsolidasikan kembali posisinya.
ISIS belum begitu sukses. Meskipun telah melakukan operasi besar-besaran pada Januari dalam serangan terhadap konsulat Pakistan di Jalalabad, kelompok ini belum mampu mengamankan wilayah atau dukungan yang diperlukan untuk mengalahkan pesaingnya yang lebih mapan.
Pejuang Taliban terdiri dari anggota suku yang keras. Mereka dilatih dan dididik oleh para pemimpin kelompok sejak kecil. Berbeda dengan ISIS, siapa pun dengan mudah bergabung, asalkan mau berjanji setia kepada pemimpinnya, Abu Bakar Al-Baghdadi. Taliban tidaklah demikian. Seorang individu tidak bisa hanya memutuskan untuk bergabung dengan Taliban begitu saja. Bagi Taliban, ISIS adalah entitas asing yang mencoba untuk mengendalikan Afghanistan. Ini adalah sesuatu tidak akan dibiarkan Taliban.
Abu Umar Maqbul, mantan juru bicara Taliban Pakistan, berbaiat kepada ISIS pada 26 Januari 2015. Foto: Khurasan Media
Abu Umar Maqbul, mantan juru bicara Taliban Pakistan, berbaiat kepada ISIS pada 26 Januari 2015. Foto: Khurasan Media
Pekan lalu, Taliban mengeluarkan pernyataan bahwa beberapa anggota yang sebelumnya membelot kepada ISIS telah bergabung kembali dengan Taliban. Alasan mereka karena kebijakan buta dan ambigu ISIS. ISIS tidak memiliki obat untuk luka Afghanistan, kata pernyataan itu.
Di lapangan, Taliban dapat diterima komunitas akar rumput. Laporan akhir tahun 2015 dari desa Qara Ghaily yang direbut oleh kelompok anti-Taliban menguatkan hal ini. Kelompok yang dipimpin Ghulam Faruq merebut desa itu setelah lima tahun di bawah kontrol Taliban.
Desa terpencil itu berada di barat laut Afghanistan yang berbatasan Turkmenistan. Desa itu menjelaskan sekilas kehidupan di bawah kekuasaan Taliban dan merangkum kegagalan pemerintahan Kabul.
Faruq menggambarkan Taliban sebagai kelompok garis keras. Mereka terus membatasi masyarakat di bawah aturan Syariat, termasuk larangan musik, mencukur jenggot dan gaya rambut Hollywood.
Tetapi meskipun visi “keras” mereka tentang Islam, Taliban mendapatkan dukungan atas upaya mereka mewujudkan ketertiban di desa melalui sistem peradilan syariah yang berjalan efektif. Ini telah mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintah yang didukung Barat yang dipandang tidak kompeten dan korup.
Berbeda dengan sistem hukum resmi pemerintahan Kabul, yang dibangun dengan jutaan dolar dari bantuan luar negeri, pengadilan resmi Taliban memberikan layanan keadilan yang cepat dalam semua hal. Terutama kasus perzinaan dan perampokan.
Satu hal khususnya, yang membedakan mereka dari para pejabat pemerintah Kabul, mereka tidak pernah menuntut uang suap.
“Jika Anda pergi ke pengadilan kota, hakim akan mengambil uang Anda, petugas akan mengambil pakaian Anda dan para penjaga akan mengambil apa pun yang tersisa,” kata seorang warga desa, yang meminta tidak disebutkan namanya karena takut pembalasan.
“Orang-orang lebih memilih untuk mentolerir kekejaman Taliban daripada keadilan keadilan dan segala sesuatu yang mereka miliki dirampok,” tambahnya.
Reporter: Salem

Motif dan Realita Dibalik Mundurnya Davutoglu

Istanbul – Perdana Menteri Turki Ahmet DavutoÄŸlu mengatakan bahwa ia siap menerima posisi apa saja supaya tidak menimbulkan bahaya/kerugian bagi perjuangan partai dan sahabat-sahabatnya. Dengan penuh percaya diri DavutoÄŸlu menyampaikan pernyataannya itu dalam sebuah konferensi pers yang diadakan untuk mengumumkan tanggal pelaksanaan kongres luar biasa partai yang berkuasa, Partai Keadilan & Pembangunan (AKP). “Saya akan tetap menjalin hubungan kekeluargaan yang dekat dengan Presiden Erdogan, dan saya tidak akan pernah membiarkan rumor atau spekulasi apapun mengenahi rasa hormat saya kepada beliau dan perannya sebagai pemimpin Republik Turki,” imbuh DavutoÄŸlu.
Pernyataan pers DavutoÄŸlu ini disampaikan sebagai respon terhadap publik yang sudah terlanjur mengetahui bahwa ia akan mundur saat kongres Partai AKP tanggal 22 Mei nanti. Tidak mudah untuk melihat bahwa pengunduran diri DavutoÄŸlu itu sebagai sesuatu yang biasa, meskipun ada sejumlah bocoran dari media mengenahi adanya perbedaan serius antara dirinya dengan Presiden Erdogan. Satu hal bahwa pengunduran diri sang perdana menteri ini merupakan sebuah peristiwa perubahan dramatis dalam perpolitikan di Turki dan akan membawa sejumlah konskuensi serius baik secara politik maupun ekonomi.
Pada saat Presiden Erdogan dan DavutoÄŸlu dengan tegas menolak berbagai klaim adanya perbedaan pendapat di antara keduanya, banyak bocoran media mengungkap bahwa selama ini ada masalah yang tidak diketahui oleh publik. Meskipun, bukan rahasia lagi bahwa kedua elit tersebut memiliki pandangan yang berbeda mengenahi sejumlah isu. Ada juga rumor yang beredar sebulan sebelum DavutoÄŸlu mengumumkan jadwal pelaksanaan kongres dan sebelum ia mengumumkan keinginannya untuk tidak lagi bersama Partai AKP.
Sejak partainya berkuasa pada tahun 2003, tercatat serangkaian kesuksesan elektoral yang belum pernah terjadi sebelumnya di bawah pendiri partai, Erdogan. Namun demikian, pada akhir Juni 2015 yang lalu dalam pemilihan parlementer yang dianggap kontroversial, partai AKP kehilangan suara mayoritas untuk pertama kalinya. Sebagai Perdana Menteri sekaligus Ketua Partai AKP, agak mengejutkan ketika Davutoglu berpandangan bahwa (mayoritas) rakyat Turki nampaknya memilih untuk menolak sistem presidensial. Diyakini ia sendiri (juga) menolak perubahan dari sistem parlementer menjadi presidensial sebagaimana diinginkan Erdogan.
Dalam pernyataan pasca pemilu tahun lalu yang dilihat sebagai momen pertama kalinya DavutoÄŸlu mencitrakan dirinya sebagai seorang calon pengganti yang independen bagi pemimpin paling kharismatik & berpengaruh di era Turki modern. Selama masa jabatannya sebagai perdana menteri, Davutoglu dinilai berhasil memposisikan atau menggambarkan entitas pribadinya sebagai seorang pembuat kebijakan yang independen dan bukan sekedar sebagai penyambung lidah, atau pewaris kekuasaan yang selalu tunduk.
Menyusul kehilangan suara mayoritas di parlemen dalam pemilu pada bulan Juni, Davutoglu kemudian mencoba membentuk pemerintahan koalisi yang nampaknya bakal sia-sia. Karena hampir bisa dipastikan, Erdogan akan menyerukan dilakukannya pemilihan sela pada bulan November di mana partai AKP kembali merebut suara mayoritas di parlemen.
Setelah (kembali) menang dalam pemilu tersebut, Davutoglu mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan berusaha untuk lebih memberdayakan posisinya sebagai seorang pemimpin yang kuat sebagai sesuatu yang layak menyusul kemenangan partainya itu. Ketegangan di antara kedua petinggi AKP itu mencapai  puncaknya ketika Davutoglu merasa bahwa tokoh seniornya – Erdogan – ingin membatasi kekuasaannya dengan memilih anggota-anggota dewan tertinggi partai serta para pemimpin partai di tingkat propinsi. Faktanya, mereka sudah melakukannya dengan diberikannya wewenang/kekuasaan kepada Komite Delegasi Tertinggi AKP yang dipilih secara ketat oleh Erdogan.
Puncaknya lagi (barangkali) ketika Menteri Transportasi & Telekomunikasi Binali Yildirim yang dikenal sangat dekat dengan presiden menyatakan akan mencalonkan diri sebagai ketua partai dalam kongres mendatang. Yang mengagetkan, para anggota partai telah mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung pencalonan Yildirim yang kemudian mendorong Davutoglu mengumumkan keinginannya untuk mundur sebagai perdana menteri supaya tidak semakin memperlebar perbedaan.
Bocoran informasi lainnya menyebutkan bahwa calon pengganti potensial Davutoglu adalah juru bicara pemerintah Noman Kurtulumus, Menteri Kehakiman Bekir Bozdag, dan Menteri Energi Berat Albayrak, termasuk Yildirim.
Keretakan hubungan antara kedua tokoh pemimpin terkemuka Turki itu bersamaan dengan kemajuan operasi militer Turki dalam menumpas kelompok teroris PKK. Davutoglu dan Erdogan nampaknya juga berbeda pandangan dalam menyikapi isu ini. Sementara Davutoglu mengusulkan kembali ke meja perundingan dalam rangka menuntaskan tahap finalisasi proses rekonsiliasi damai sebagai solusi bagi perang yang tengah berlangsung di wilayah selatan & tenggara Turki tersebut, Erdogan cenderung memilih tindakan yang lebih keras.
Perselisihan terkait pemilihan Kepala Badan Intelijen Turki, Hakan Fidan dalam pemilu parlementer juga bagian dari perbedaan pandangan antara keduanya.  DavutoÄŸlu mendorong Fidan maju menjadi Kepala Intelijen tanpa harus ada persetujuan dari Erdogan yang secara publik pernah menyatakan ketidaksetujuannya dengan langkah tersebut. Sebagai presiden, Erdogan menambahkan bahwa Fidan jauh lebih penting perannya di dunia intelijen daripada di parlemen. Akhirnya, Fidan mundur dari pencalonan tersebut.
Perbedaan kebijakan di bidang moneter juga menambah daftar panjang perselisihan antara Davutoglu dan Erdogan. Erdogan mendukung kebijakan tingkat suku bunga yang rendah, sementara Davutoglu ingin menahan diri dari segala bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga indendensi Bank Sentral. Lebih jauh lagi, dikatakan bahwa Erdogan tidak sepenuhnya senang terhadap kesepakatan antara Turki dengan Uni Eropa yang tidak dikonsultasikan dengannya mengenahi pengungsi Suriah. Ketika perbedaan & perselisihan kedua pemimpin Turki tersebut mengemuka di publik, pasar saham Turki anjlok dan mengalami grafik menurun, demikian juga dengan nilai mata uang Lira terhadap mata uang asing karena para investor mengambil sikap hati-hati terhadap situasi yang sedang berkembang.
Banyak pihak melihat perkembangan politik di Turki saat ini sebagai peluang untuk membuat situasi menjadi lebih keruh. Jaringan media oposisi menyorot tajam dominasi Erdogan dalam kekuasaan eksekutif. Oposisi juga menuding bahwa Erdogan ingin menjadi satu-satunya “sultan” penguasa di Turki. Sejumlah pihak lainnya mencurigai Erdogan memiliki agenda politik & keagamaan yang mereka sendiri menggambarkan konflik antara Presiden dan Perdana Menteri ini sebagai kelanjutan dari perburuan oleh “diktator” Erdogan terhadap rival-rivalnya. “Di banding dengan para pemimpin diktator lainnya, cengkeraman kekuasaan Erdogan terhadap Turki tidak sepenuhnya terkonsolidasi,” tulis seorang penulis sayap kiri.  “Namun demikian, apa yang terjadi saat ini merupakan babak akhir dengan mundurnya DavutoÄŸlu.”
Para penentang Erdogan selama ini meminjam kata-kata mantan Presiden Abdullah Gul yang membuat ungkapan terkenal, “Saya telah menghadapi sikap yang sangat tidak respek dari dalam.” Ungkapan senada juga pernah dinyatakan mantan Deputi Perdana Menteri Bülent Arınç, “Saya diundang dengan cara yang tidak sepantasnya ke kongres partai yang saya dirikan. Itu bukan cara yang tepat memperlakukan orang seperti saya.” Kedua tokoh politik terkemuka ini bersumpah bahwa mereka tulus berkhidmat kepada partai yang mereka cintai dan tidak akan menusuk punggung kolega-kolega mereka dari belakang. Sementara Gul menyatakan secara jelas akan terus berkarir di dunia politik, Arınç memilih istirahat dan berjanji akan kembali berpolitik ketika ada peluang yang positif.
Perubahan kepemimpinan di level atas Partai Keadilan & Pembangunan ini terjadi saat Turki sedang menghadapi berbagai masalah yang rumit. Di antaranya adalah operasi militer yang terus berlangsung melawan militan PKK Kurdi, serangan teroris oleh kelompok ISIS di wilayah perbatasan dengan Suriah dan di sejumlah kota-kota di Turki, serta arus jutaan pengungsi Suriah yang meninggalkan negaranya akibat serangan masif-barbar Rusia dan agresi brutal pasukan Assad di Aleppo dan sekitarnya.
Perubahan di level pimpinan yang waktunya bersamaan dengan masa krisis merupakan langkah yang berisiko di mana sebagian pihak percaya hal itu bisa mendorong Partai AKP menuju perpecahan, terutama dengan semakin banyaknya suara-suara yang menyerukan penentangan serius terhadap kekuasaan Erdogan yang semakin besar. Sejumlah kritik menyatakan Erdogan menjadi semakin otoriter dan hal itu akan berefek negatif bagi referendum yang diusulkan terkait (perubahan) sistem pemerintahan di dalam konstitusi negara Turki modern.
Akhirnya, penting untuk dilihat bahwa Erdogan dan DavutoÄŸlu tidak sedang berbeda pendapat dalam hal visi dan strategi , tetapi perbedaan di antara kedua figur politik Turki itu berada pada tataran internal partai dan manajemen operasional kepartaian, serta pada mekanisme pengambilan keputusan.  Karena konstitusi negara Turki memang memberi peluang bagi perbedaan pendapat, hanya saja beda pendapat  kali ini sampai menyebabkan terjadinya “gesekan” antara kepala pemerintahan dengan kepala negara.
Benar juga bahwa Erdogan mundur dari AKP setelah dirinya terpilih sebagai presiden, namun pengaruhnya di internal partai dan juga dukungan dari para pendukungnya masih sangat jelas terlihat. Sejak Erdogan mengatakan bahwa dirinya tidak akan menjadi presiden yang “biasa-biasa aja”, ia ingin menggunakan hak konstitusionalnya dan ingin memainkan peran yang lebih selama masa jabatannya.
Sumber: Middle East Monitor

Minggu, 08 Mei 2016

Muncul di Media, Amir Al-Qaidah Serukan Persatuan di Suriah

http://kiblat.net/files/2016/05/Zhawahiri-1.jpg
“Syam hari ini adalah harapan umat Muslim [di seluruh dunia Muslim],” ungkapnya. Karena menurutnya, Syam adalah satu-satunya revolusi rakyat yang mengikuti jalan yang benar, dari seluruh rangkaian Arab Spring yang terjadi di banyak negara di Timur Tengah. Syam menjadi ladang dakwah dan jihad untuk mendirikan khilafah rasyidah (yang mendapat petunjuk)."


KIBLAT.NET – Al-Qaidah kembali merilis pesan baru pemimpinnya Dr Aiman Az-Zawahiri berjudul, “Infiru li Asy-Syam (Berangkatlah untuk Syam).” Pesan itu disampaikan dalam rekaman audio yang dipublikaskan di media online kemarin (8/5).
Dalam rekaman tersebut, Amir Al-Qaidah menekankan bahwa Syam adalah harapan bagi umat Islam.
“Syam hari ini adalah harapan umat Muslim [di seluruh dunia Muslim],” ungkapnya. Karena menurutnya, Syam adalah satu-satunya revolusi rakyat yang mengikuti jalan yang benar, dari seluruh rangkaian Arab Spring yang terjadi di banyak negara di Timur Tengah. Syam menjadi ladang dakwah dan jihad untuk mendirikan khilafah rasyidah (yang mendapat petunjuk).
Azh-Zhawahiri juga mengatakan bahwa semua Muslim hari ini wajib membela jihad di Syam, melawan berbagai konspirasi yang dipimpin oleh Amerika, Inggris dan Arab Saudi. Suriah hendak diganti dengan sebuah rezim berdasarkan Islam, tetapi hanya kepalsuan karena menyetujui sekularisme dan nasionalisme.
Tugas kaum muslimin hari ini, kata Azh-Zhawahiri, adalah bekerja untuk kesatuan mujahidin hingga Syam dibebaskan dari rezim Nushairiyah dan mitra Syiah mereka (yang berarti Iran dan Hizbullah), serta Tentara Salib Barat dan Rusia. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah entitas Islam yang benar.
Pemimpin Al-Qaidah itu mendesak para mujahidin untuk bersatu di Suriah. Ia mengatakan bahwa itu adalah masalah hidup dan mati bagi mereka. Ia juga memperingatkan mereka untuk tidak terganggu oleh pembahasan hubungan Jabhah Nusrah dengan Al-Qaidah.
Mengacu pada isu yang beredar beberapa waktu lalu bahwa Jabhah Nusrah akan memutuskan baiat (kesetiaan) dari Al-Qaidah, Azh-Zhawahiri bertanya secara retoris bukankah langkah itu akan memuaskan penjahat? Azh-Zhawahiri menyatakan lebih lanjut bahwa itu hanya akan menyebabkan Jabhah Nusrah dipaksa untuk tunduk kepada perjanjian yang memalukan sebagai bagian dari kepasrahan kepada pemerintah yang rusak di wilayah tersebut. Azh-Zhawahiri memperingatkan bahwa itu adalah jalan demokrasi yang busuk, yang telah menjatuhkan kelompok-kelompok Islam lainnya, seperti Front Keselamatan Islam (FIS) di Aljazair dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan menyebabkan anggota mereka yang dijebloskan ke penjara.
Azh-Zhawahiri kemudian beralih ke inti permasalahan, bahwa Al-Qaidah sedang berjuang untuk menegakkan sebuah emirat Islam berdasarkan versi syariah.
Bila Mujahidin di Syam membangun pemerintahan dan memilih seseorang sebagai imamnya, maka apa yang mereka pilih juga menjadi pilihan Al-Qaidah, kata Azh-Zhawahiri. Ia berpendapat bahwa anggota Al-Qaidah bukan pemburu kekuasaan yang ingin menguasai orang lain. Mereka adalah penuntut tahkim syariah yang menginginkan sebuah pemerintahan di bawah otoritas syariat Islam.
Azh-Zhawahiri menyerukan kepada mujahidin untuk bersatu di Syam, sehingga mereka dapat membangun pemerintahan Islam yang mendapat petunjuk. Keadaan seperti itu pada akhirnya akan mengarah pada kembalinya kekhalifahan menurut metodologi kenabian, yang populer dengan istilah khilafah ala manhaj nubuwwah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Azh-Zhawahiri menegaskan, organisasi afiliasi Al-Qaidah tidak akan menjadi penghambat, karena Al-Qaidah merupakan bagian dari umat dan bukan menguasai umat. Al-Qaidah tidak akan mendirikan negara dengan baiat dari orang yang tidak dikenal dan khilafah yang diumumkan secara tiba-tiba. Al-Qaidah tidak menerima janji kesetiaan kecuali yang diberikan dengan senang hati, kita juga tidak memaksakan kepada siapa pun.
Reporter: Salem
Sumber: LWJ

Senin, 02 Mei 2016

Perkenalkan! Ini Janna Jihad, Wartawan Palestina Berumur 10 Tahun

http://www.kiblat.net/files/2016/05/Janna-Jihad.jpgKIBLAT.NET, Tepi Barat – “Kameraku adalah senjataku. Kamera lebih kuat ketimbang senjata. Aku dapat mengirimkan pesan kepada segelintir orang dan mereka dapat mengirimkan kepada orang lain.”
Kalimat yang amat tegas itu keluar begitu saja dari seorang gadis kecil bernama Janna Jihad Ayyad. Bulan ini, usianya baru menginjak 10 tahun. Bisa dibilang, Janna ialah jurnalis termuda di dunia yang meliput di wilayah konflik.
Janna yang menetap di desa Nabi Saleh di Tepi Barat, wilayah pendudukan Israel melakukan peliputan dan merekam sejumlah kejadian-kejadian pilu yang dialami oleh saudara-saudaranya.
Dalam perjalanannya, Janna semakin menekuni dunia jurnalistik tatkala ia kehilangan sejulah anggota keluarganya, termasuk dua saudaranya di daerah Nabi Saleh. Pamannya, Rushdie Tamimi terbunuh setelah tentara Israel melepaskan tembakan fatal yang bersarang di ginjalnya. Sepupunya, Mustafa Tamimi juga ikut menyusul akibat terkena serangan gas.
Pasca kejadian yang amat memilukan itu, gadis mungil tersebut meluaskan area liputannya ke sejumlah wilayah dengan berkunjung di tempat saudaranya. Dengan menggunakan iPhone milik ibunya, Janna membuat video tentang situasi di Jerusalem, Hebron, Nablus, dan Yordania.
Perjalanan liputan Janna menunjukkan bagaimana kehidupan warga yang ditahan di tempat pemeriksaan, saat berunjuk rasa, hingga kekerasan yang dilakukan tentara Zionis kepada anak-anak Palestina.
Sebelum menjalani kehidupan jurnalistik, Janna bersama teman-temannya rajin mengikuti aksi demonstrasi melawan pendudukan tentara Zionis Israel. Di video pertamanya, ia merekam jejak peristiwa yang terjadi di desanya saat baru berusia 7 tahun.
“Tak banyak jurnalis mengirim pesan kami -warga Palestina- ke seluruh dunia. Jadi, saya pikir kenapa bukan saya yang mengirim pesan… dan menunjukkan kepada mereka apa yang sedang terjadi di desa saya,” katanya.
Untuk terjun ke dunia jurnalistik, Janna sebenarnya terinspirasi dengan sepak terjang pamannya, yang tak lain adalah seorang fotografer yang mendokumentasikan kejahatan tentara Israel di Nabi Saleh.
Janna Jihad Ayad
Janna Jihad Ayad
“Saya berbicara tentang apa yang sedang terjadi. Saya melihat pendudukan, tentara, meriam, dan polisi. Mereka melakukan banyak hal untuk memmbuat kami keluar dari tanah kami,” tegasnya seperti dikutip dari Al Jazeera pada 28 April 2016.
Menjadi seorang jurnalis, Janna juga aktif di media sosial, bagaimana ia memiliki akun Facebook dengan jumlah pengikut lebih dari 22 ribu orang. Dia juga mengunggah sejumlah video keikutsertaannya dalam aksi demonstrasi menentang pendudukan Israel dan melaporkan hasil reportasenya dengan bahasa Arab dan Inggris.
Melihat gadis kecilnya menjadi Jurnalis, Nawal Tamimi (ibunya) pun mengaku bangga dengan sepak terjang putri mungilnya. “Saya bangga pada anak perempuan saya karena sejak kecil dia berbicara tentang pesan-pesannya kepada dunia. Dia menyampaikan rasa takutnya, apa yang dia rasakan, dan cerita kenapa ia tak bisa sekolah seperti anak lainnya,” ungkapnya.
Bersamaan dengan rasa bangga terhadap anaknya, ibu Janna sekaligus merasa khawatir terhadap putrinya dan mengenang bagaimana bengisnya tentara Israel saat mendobrak rumahnya. “Saya khawatir padanya, ketika tentara datang di tengah malam dan menyiram gas air mata ke rumah kami, dan kami terbangun dalam kepungan asap. Mereka menyerang kami yang berdemo menentang pendudukan Israel,” ujar Nawal.
Sementara itu, paman Janna yang bernama Bilal mengaku sulit bila harus menerima pekerjaan yang telah dilakukan keponakannya. “Semestinya dia bermain dan belajar, namun kami tidak punya banyak pilihan,” paparnya.
Bilal menuturkan bahwa para keluarga Palestina telah mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak melakukan penganiayaan dan tidak mendukung hal yang berbau kejam. Terkait dengan hal ini, para keluarga juga akan mengajarkan bauh hatinya untuk “berjuang dan memerdekakan” Palestina.
Di tengah kekhawatiran orang tua dan keluarga atas profesinya, Janna merasa beruntung sebagai jurnalis anak-anak ketimbang jurnalis dewasa. “Tentara (Israel, red) hanya menangkap jurnalis-jurnalis besar dan mengambil kamera mereka,” imbuhnya.
Saat usianya menginjak dewasa, Janna mengungkapkan keinginannya untuk bekerja di kabar berita internasional seperti CNN atau Fox News dengan alasan, “mereka tidak pernah bicara tentang Palestina, dan saya mau membuat liputan-liputan tentang Palestina”.
Walau telah mengenal dunia jurnalistik, Janna tetaplah gadis kecil Palestina yang masih ingin bermain dan belajar. Ketika ditanya mengenai dunia yang ideal, Janna mengatakan “saya mau dunia ini berwarna pink”.

Sumber: aljazeera.com
Penulis: Dio Alifullah

Minggu, 01 Mei 2016

Mindanao Masih Panas, Pejuang Islam Terus Menekan dan Bertahan

KIBLAT.NET – Sebulan pasca pertempuran sengit yang terjadi pada pekan terakhir bulan Februari yang lalu, dilaporkan baku tembak sporadis terkadang masih terus berlangsung antara Sondalo (pasukan pemerintah Filipina) dengan para pejuang Islam di Butig Municipal, propinsi Lanao Del Sur.
Sumber-sumber di lapangan menyebutkan kerugian di pihak tentara pemerintah sedikitnya 80 sondalo tewas, 2 unit kendaraan lapis baja hancur, satu markas detasemen militer berhasil direbut mujahidin beserta senjata dan amunisinya. Sementara, hingga saat ini 6 pejuang Islam dilaporkan gugur dan 2 orang jihadis lainnya belum diketahui apakah killed in action atau tertangkap oleh musuh. Ribuan pengungsi sebagian besar masih belum berani pulang ke rumah-rumah mereka karena situasi keamanan belum kondusif.
Menurut seorang koresponden, Abbas Basco, para jihadis muda yang dimotori oleh duo bersaudara Omar dan Abdullah al-Maranao ini bergerak secara independen dan tidak berafiliasi dengan faksi lokal yang sudah ada. Meski sama-sama menggunakan identitas jihadis bendera hitam atau black flag, kelompok ini diduga tidak terkait dengan Ansharu ad-Daulah yang berafiliasi dengan ISIS.
Upaya negosiasi antara kelompok mainstream MILF dengan Manila mendorong sejumlah elemen-elemen Bangsamoro yang tidak puas dengan kebijakan tersebut memisahkan diri dan melanjutkan perjuangan bersenjata. Negosiasi yang sudah diupayakan selama beberapa tahun dan disponsori oleh Malaysia, termasuk sejumlah negara Uni Eropa dan organisasi kerja sama Islam OKI itu akhirnya menghadapi jalan buntu, karena DPR Filipina gagal mengesahkan RUU bagi dasar pembentukan sebuah wilayah otonomi Muslim di Mindanao.
Pejuang Islam Moro
Pejuang Islam Moro
Sebagaimana pernyataan juru bicara militer, Kolonel Noel Detoyato, insiden akhir Februari tersebut melibatkan serangan dan kontra serangan, aksi saling balas tembakan sniper, dan tembakan artileri, termasuk helikopter tempur dan pesawat pembom. Angkatan Udara Filipina hingga kini masih mengandalkan OV-10 Bronco, sebuah pesawat era 1970an dengan kemampuan melakukan surveillance dan serangan ringan untuk menekan posisi pejuang-pejuang Islam di selatan negara itu. Pernyataan perwira militer sondalo Kolonel Roseller Murillo, yang sebelumnya menyatakan jumlah militan Islam yang tewas mencapai 61 orang sejauh ini tidak terbukti, dan hanya berdasar pada informasi intelijen.
Di tempat terpisah, di propinsi Maguindanao pertempuran antara mujahidin BIFF (Bangsamoro Islamic Freedom Fighter) melawan sondalo sudah berlangsung hampir dua bulan. Meski didukung dengan kekuatan personil dan persenjataan yang lebih besar, sondalo banyak mengalami kerugian. Kombinasi medan tempur di daerah rawa-rawa dan belantara tropis sangat menyulitkan sondalo dalam menekan posisi mujahidin yang menerapkan taktik gerilya.
Para sniper mujahidin terbukti sangat efektif menghalau gerak maju musuh. Menurut sejumlah sumber media lokal, dilaporkan sedikitnya 104 sondalo tewas sejak awal pertempuran. Sementara di pihak BIFF dan sekutunya elemen foreign jihadist fighter, 1 orang pejuang gugur dan 1 orang lainnya tertangkap oleh musuh, yaitu salah satu petinggi BIFF Ustadz Hasan Indal saat berada di Cotabato.
Perlawanan para pejuang Islam dengan dukungan masyarakat Muslim untuk memisahkan diri dari pemerintah Manila sudah berlangsung selama lebih dari empat dekade di pulau Mindanao dan di wilayah-wilayah lainnya di selatan Filipina, menyebabkan lebih dari 120.000 orang tewas.
Darah pejuang Bangsamoro bahkan sudah ada sejak masa Kesultanan Sulu yang wilayahnya membentang dari Mindanao, Tawi-Tawi, Palawan, hingga Sabah di Malaysia. Dipimpin oleh Syarief al-Hasyim Syed Abu Bakar, perlawanan berlangsung sengit menentang penjajahan Spanyol terjadi di wilayah ini. Seorang penjelajah Potugis Ferdinand Magellen (1480-1521) beserta anak buahnya tewas ditangan Lapu Lapu, yang menurut sebagian ahli sejarah merupakan seorang etnis Tausug Muslim sekaligus pendiri Kesultanan Cebu bersama Rajah Humabon.

Khattab, “The Bin Ladin of Chechnya” (3/3)

“Seranglah musuhmu sebelum kalian diserang, kita tidak mau menunggu sampai kita diserbu kemudian menjerit seperti jeritan kaum wanita. Akan tetapi, kapan saja kita mencium rencana musuh akan menyerbu, kita harus menghentikan mereka hingga hilang keberanian mereka untuk merampas negeri kaum muslimin.” (Khattab)
KIBLAT.NET – Pada edisi pertama telah dibahas bagaimana sepak terjang Khattab dari lahir  hingga menjelma menjadi seorang mujahid yang tangguh. Kisah hidupnya dipenuhi kisah-kisah unik nan heroik yang dapat dijadikan teladan bagi para mujahid masa kini.
Pengalaman jihadnya di Afghanistan menjadi modal utama untuk menyongsong medan jihad lainnya. Pada edisi kedua membahas perjuangan Khattab di medan jihad setelah Afghanistan, yaitu Tajikistan dan Chechnya. Di Chechnya inilah Khattab mulai dikenal dan ditakui lawan. Hingga pemerintah Chechnya menyematkan gelar pahlawan nasional padanya.
Akan tetapi, ternyata negera Beruang Merah tidak menyerah begitu saja. Pada edisi terakhir ini akan dibahas perjuangan Khattab di pertempuran Daghestan, perang Chechnya II, strategi dan dakwah Khattab serta syahidnya sang pahlawan karena sebuah pengkhianatan.
Daghestan
Pada awalnya beberapa para petinggi Chechnya menyesalkan terjadinya perang jilid dia ini. Pasalnya mereka menganggap semua itu terjadi karena Khattab memulai persengketaan dengan Rusia di Daghestan pada tahun 1418 H.
Peta Daghestan
Peta Daghestan
Para petinggi ini mengaggap tindakan Khatta terlalu tergesa-gesa dan sembrono hingga menyulut kembali pertempuran. Apakah benar seperti itu? Tidak, Khattab menyerang pos-pos Rusia di Daghestan tidaklah secara serampangan. Justru hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan serangan mendadak dari Rusia.
“Seranglah musuhmu sebelum kalian diserang, kita tidak mau menunggu sampai kita diserbu kemudian menjerit seperti jeritan kaum wanita. Akan tetapi, kapan saja kita mencium rencana musuh akan menyerbu, kita harus menghentikan mereka hingga hilang keberanian mereka untuk merampas negeri kaum muslimin.”Jelas Khattab dengan lantang.
Khattab berkolaborasi dengan Syamil Basayev menyerang Daghestan karena alasan itu. Keputusan itu ia ambil karena ia tahu bahwa Rusia telah bersiap-siap menyerang Chechnya untuk kedua kalinya. Walaupun perjanjian telah ditandatangani di atas kertas, Rusia menganggapnya sebagai angin lalu dan berusaha mencari alasan-alasan untuk menyerang.
Khattab juga mengetahui bahwa Rusia telah menyebar mata-mata di Chechnya dan membuat sebuah ledakan bunuh diri di ibukota Rusia, Moskow. Peledakan itu terjadi pada 14 September 1999 di sebuah apartemen di jantung Rusia. Bom itu memang sengaja dibuat untuk melegalkan serangan kedua yang akan dilancarkan Rusia ke Chechnya.
Bom Rusia
Bom Rusia
Jadi, gerak cepat yang dilakukan Khattab dengan menyerang Daghestan adalah langkah yang tepat. Karena menyerang Daghestan atau tidak, Rusia tetap akan memulai invasi ke Chechnya untuk kedua kalinya. Dalih yang dipakai pihak Rusia untuk menyerang Chechnya adalah memerangi terorisme. Padahal Rusia sendiri yang sebenarnya teroris, menyerang sebuah negara dengan menghalalkan segala cara.
Beberapa prinsip dalam jihad menurut Khattab adalah
  1. Hidup mati jihad tidak tergantung pada hidup mati seorang komandan
  2. Tujuan pertama jihad yaitu menegakkan syariat Islam dan hukum Allah
  3. Tidak ada jalan untuk berunding dengan musuh-musuh Allah
  4. Tidak ada kata istirahat dalam memerangi orang kafir hingga bencana yang menimpa umat Islam hilang.
  5. Komandan bukan jabatan yang menyenangkan
  6. Kesatuan barisan merupakan pondasi pokok di dalam menghadapi musuh yang lalim dan atheis seperti Rusia.
  7. Seorang komandan tidak boleh merasa putus asa dari rahmat Allah, meskipun dalam keadaan yang sangat genting.
  8. Bersikap lembut pada masyarakat dan mementingkan keselamatannya.
Pemikiran dan Dakwah Khattab
Khattab memiliki manhaj dan aqidah salaf. Ia memilik hubungan yang erat dengan para masyayikh seperti, Syaikh Abadullah bin Baz, Syaikh Al-Utsaimin dan Syaikh Hamud Al-Uqla. Ulama-ulama inilah yang menjadi referensi Khattab dalam persoalan jihad, ilmu dan dakwah. Oleh karena itu, kita tidak akan menemukan kebid’ahan dalam jihad Chechnya atau penyimpangan aqidah.
Syaikh Hamud bin Uqla
Syaikh Hamud bin Uqla
Akhirnya hal ini membuat resah kelompok sufi, sehingga mereka memilih merapatkan diri dengan Rusia. Naudzubillah. Khattab menilai, Chechnya merupakan negeri yang subur dalam pembinaan dakwah. Maka ia mulai melakukan aktivis dakwah untuk membentuk basis-basis dakwah dan jihad berdasarkan garis haluan yang shahih. Kemudian ia mendirikan “Ma’had Al-Qauqaz li I’dad Ad-Du’at”. Setiap personal yang bergabung didalamnya sebelum dia diterima di dalam kancah jihad dan wajib mengikuti pembekalan ilmu secara intensif selama dua bulan.
Khattab bersama dengan para mujahidin Chechnya
Khattab bersama dengan para mujahidin Chechnya
Personal yang ingin mengikuti pembekalan ilmu dan jihad semakin bertambah hingga mencapai 400 siswa. Kondisi ini membuat Rusia marah besar. Selanjutnya ia terus mengembangkan upaya dengan mendirikan sekolah untuk menghafal Al-Quran. Dia mengungkapkan, “Kami menyaksikan pengaruh yang signifikan dari kegiatan ini dalam aspek pengorbanan dan kegigihan para mujahidin.”
Syaikh Abu Umar As-Saif
Syaikh Abu Umar As-Saif
Dengan kegiatan ini jihad Chechnya bisa menjadi contoh. Tidak ada perselisihan, perpecahan dan saling mencela. Seluruhnya bersatu di bawah satu pemimpin. Mereka mengangkat seorang mufti agar mereka tidak melakukan pelanggaran, dia adalah Abu Umar As-Saif Al-Khalidi dari negeri Damam, sebelah timur Saudi Arabia. Siapakah dia? Profilnya bisa dilihat di sini.
Perang Chechnya II
Pada bulan Ramadhan 1418 H mujahidin dipimpin oleh Khattab dan Syamil Basayev melancarkan operasi besar atas basis militer Rusia terbesar di Daghestan. Mereka melakukan operasi militer dengan menghancurkan wilayah Daghestan. Peristiwa ini mendorong pemerintah setempat melakukan tekanan terhadap aktivis dakwah dan menangkap para pemimpinnya, hingga sebagian terpaksa mengungsi keluar negeri.
Mujahidin meminta bantuan dan akhirnya bantuan pun datang. Polisi Daghestan bercerai berai dan meminta bantuan kepada tentara Rusia hingga mereka datang dengan kekuatan besar ke kota dan mengepungnya.
Mereka menyerbu dengan pesawat-pesawat tempur dan roket. Maka para mujahidin meminta bantuan pada saudara-saudara mereka di Chechnya yang akhirnya mereka masuk melalui provinsi Butlek dan berhasil menguasai tiga distrik dan pangkalan militer. Rangkaian peristiwa itu terjadi sangat cepat dan pasukan Rusia mengerahkan berbagai senjata berat dan ringan mereka untuk menghadapi mujahidin.
Mujahidin Bergerilya
Mujahidin bergerilya
Sejak saat itu,perang gerilya antara mujahidin dan tentara Rusia terus berlangsung. Mujahidin telah melakukan operasi-operasi militer dengan kemenangan gilang gemilang hanya dalam waktu beberapa tahun saja. Dalam waktu yang singkat itu mereka mampu membuat negara Rusia tidak berdaya, baik dari aspek militer, politik dan ekonomi.
Kemenangan demi kemenangan itu diraih dengan susah payah. Sesuai dengan sunnatullah semua harus diraih dengan pengorbanan,kesulitan, keresahan, kegoncangan hingga mujahidin masuk ke dalam Jannah. Di saat kemenangan menyelimuti mujahidin, Allah menguji mereka dengan syahidnya komandannya yang paling disegani.
Rupanya Rusia telah kehilangan akal hingga menggunakan cara yang picik untuk membunuh Khattab. Bukan dengan tembakan, bukan dengan sabetan pedang, bukan dengan ledakan bom melainkan dengan sebuah racun dan pengkhianatan.
Syahidnya Khattab
Khattab termasuk salah satu komandan atau pemimpin yang syahid karena ulah pengkhianat. Sebut saja Amirul Mukminin Umar bin Khattab syahid di tangan seorang Majusi ketika shalat, dimana sekarang kaum Syiah mengagung-agungkannya orang terlaknat itu, Abu Lu’luah. Bahkan khulafaurrasyidin setelahnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib pun syahid di tangan para pengkhianat.
Penampakan Sang Pengkhianat
Penampakan sang pengkhianat
Jadi, tidak heran jika metode licik itu pun ditiru musuh-musuh Islam abad ini dengan memasukkan pengkhianat ke dalam kubu mujahidin. Ada perbedaan mengenai detail kesyahidan Khattab. Namun, demikian dalam kedua cerita yang berbeda tersebut terdapat kesamaan bahwa sang komandan syahid karena ulah pengkhianat. Pengkhianat itu adalah orang yang telah dipercaya dan dikenal Khattab. Pembunuhan itu dilakukan dengan memberikan sepucuk surat yang telah dibubuhi racun. Akhirnya, Khattan syahid setelah terkena efek racun tersebut. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
Dua pekan sebelum kejadian, salah seorang komandan lapangan dari Arab mengutus seorang kurir untuk menyampaikan sepucuk surat kepada komadan Khattab. Khattab pun mengutus seseorang untuk menerima surat itu. Ternyata utusan yang dipercaya Khattab adalah seorang pengkhianat. Ia membubuhkan racun ke dalam surat itu dan menyerahkan kepada Khattab. Ketika surat itu dibuka dan Khattab menyentuh racun, tidak lebih dari lima menit akhirnya Khattab menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Khattab saat terkena racun
Khattab saat terkena racun
Khattab syahid meninggalkan satu orang istri wanita Daghestan dan tiga orang anak. Sarah usia lima tahun, Shalih usia tiga tahun dan Sajidah usia satu setengah tahun. Pahlawan Nasional Chechnya ini gugur pada usia masih
Sikap Media akan Kesyahidan Khattab
Meskipun Khattab adalah muslim Arab, komandan besar dan terkenal di berbagai belahan bumi. Meskipun dia dikenal oleh para petinggi Amerika di bagian barat dan kaisar Jepang di bagian timur. Meskipun Bush pernah meminta kepadanya pada awal perangnya di Afghanistan agar dia tidak ikut campur, sebab Bush tahu akan kemampuan yang dimiliki sang pahlawan ini. Meskipun Putin selalu dibuat gila olehnya. Namun, tidak ada satu pun channel TV selain Al-Jazeera yang memiliki kepedulian.
Al-Jazeera
Al-Jazeera
Media bungkam dan tidak menyiarkan peristiwa besar itu. Karena mereka telah “menutup mata” dan mengalihkan pandangan sesuai pesanan tuan-tuan mereka. Inilah fakta yang terjadi masa itu dan akan terus berlanjut hingga detik ini. Dimana kezaliman yang mendera salah seorang muslim teraniaya hingga meregang nyawa tidak pernah muncul pada pemberitaan. Media dipenuhi berita-berita tidak bermutu yang memang disengaja sebagai pengalihan isu. Hal itu adalah rahasia umum yang tidak dapat dielakkan lagi.
Selamat jalan wahai pahlawan Islam. Meskipun media enggan menyiarkan kesyahidanmu, namamu akan selalu harum di dada kaum muslimin. Wallahu a’lam bi shawab.
Penulis : Dhani El_Ashim
Sumber:  Buku Khattab Sang Panglima, Abu Anas Ath-Thafi, penerbit Islam Medika

Jumat, 29 April 2016

siapa sosok ya'jud ma'jud itu?

Saat menjelang wafat, Nabi Nuh a.s memanggil anak-anaknya untuk menghadap beliau. Maka Sam a.s segera datang menemuinya, namun kedua saudaranya tidak muncul yaitu Ham dan Yafits. Akibat dari ketidakpatuhan Ham dan Yafits, Allah kemudian menurunkan ganjaran kepada mereka. Yafits yang tidak datang karena lebih memilih berdua dengan istrinya (berhubungan suami istri) kemudian melahirkan anak bernama Sannaf. Kelak kemudian Sannaf menurunkan anak yang ganjil. Ketika dilahirkan, keluar sekaligus anak-anak dalam wujud kurang sempurna. Selain itu ukuran besar dan bobot masing-masing juga berbeda, ada yang fisiknya besar sedangkan lainnya kecil. Untuk selanjutnya yang besar kemudian terus tumbuh hingga melebihi ukuran normal (raksasa), sebaliknya yang bertubuh kecil terus kecil seperti liliput. Mereka kemudian dikenal sebagai Ya’juj dan Ma’juj.
Selain wujudnya yang ganjil, Ya’juj dan Ma’juj mempunyai nafsu makan yang melebihi normal. Padahal bilamana mereka makan tumbuhan tertentu maka tumbuhan itu akan berhenti tumbuh sampai kemudian mati. Demikian pula bila minum air dari suatu tempat maka airnya tidak akan bertambah lagi. Sehingga banyak sumber-sumber air dan sungai menjadi kering karenanya. Masyarakat di sekitar mereka pun harus menanggung dampaknya yaitu krisis pangan dan air.
Karena interaksi sosial yang tidak kondusif akibat masalah yang dibawa oleh Ya’juj dan Ma’juj ini maka mereka kemudian cenderung mengisolasi diri di suatu celah gunung di tengah-tengah komunitas induk bangsa-bangsa keturunan Yafits lainnya, yang antara lain meliputi bangsa: Armenia, Rusia/Slavia, Romawi dan Turk di wilayah-wilayah luas seputar Laut Hitam. Namun bilamana mereka membutuhkan makan dan minum, akan keluar secara serentak bersama-sama ke daerah-daerah sekitarnya yang masih belum tersentuh oleh mereka sebelumnya. Karena kondisi fisiknya, mereka mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu relatif lebih pendek dibandingkan oleh manusia normal. Bagi golongan raksasa karena mereka mampu melangkah dengan jangkauan lebar sedangkan golongan liliput adalah karena sedemikian ringan bobotnya terhadap gravitasi bumi sehingga bila berjalan sangat cepat seperti meluncur bersama angin.
Pada puncak keresahan masyarakat pada masa itu, Allah SWT kemudian mengutus salah satu hambaNya yang berkulit kehitaman (tetapi bukan termasuk ras negro) dengan dua benjolan kecil (tidak bertulang tanduk) di kedua sisi keningnya yang sebenarnya lebih sering tak tampak karena tertutupi oleh surbannya yaitu Dzul Qarnain untuk menghadang laju Ya’juj dan Ma’juj yang telah menimbulkan kerusakan alam yang akan terus bertambah luas.
"Berilah Aku potongan-potongan besi," hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, berkatalah dzulqarnain,"Tiuplah (api itu)," Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata,"Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu." -Al Kahfi: 96-
Sesuai petunjuk Allah, Dzul Qarnain kemudian mengajak masyarakat di sekitar lokasi tempat tinggal Ya’juj dan Ma’juj untuk bersama-sama membuat dinding tembaga dan besi yang akan menutup satu-satunya lubang keluar masuk mereka. Setelah selesai, masyarakat yang sebelumnya tinggal di dekat dinding diajak untuk meninggalkan lokasi yang sudah kering tanpa air dan tumbuhan tersebut menuju ke tempat lain yang lebih layak untuk di huni.
"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya." -Al Kahfi: 97-
Ya’juj dan Ma’juj yang telah terkurung terus berupaya membuka dinding logam tersebut dengan segala cara, bahkan dengan menjilatinya karena mereka tahu bahwa benda apapun yang mereka sentuh dengan mulutnya akan berhenti tumbuh/bertambah, kering atau tergerus. Cara ini mampu membuat bagian-bagian dinding yang mereka sentuh menjadi tipis. Namun setiap kali akan berlubang, Allah mengembalikan lagi kondisinya seperti semula. Untuk bertahan hidup selama terkurung di balik dinding, Allah menumbuhkan sejenis lumut, sebagai satu-satunya tumbuhan yang dapat terus tumbuh dan justru makin bertambah banyak setiap kali dimakan oleh masyarakat Ya’juj dan Ma’juj.
"Dzulqarnain berkata,"Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar." -Al Kahfi: 98-
Allah SWT juga mewahyukan kepada Dzul Qarnain bahwa dinding itu akan terjaga dan baru akan terbuka bila saatnya tiba yaitu kelak menjelang datangnya Hari Kiamat. Kemudian Allah menjadikan gaib (tidak terlihat) lokasi dinding tersebut.
"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi." -Al Anbiyaa: 96-
Mereka berusaha untuk keluar dengan berbagai cara, hingga sampai saat matahari akan terbenam mereka telah dapat membuat sebuah lobang kecil untuk keluar. Lalu pemimpinnya berkata,'Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita pasti bisa keluar dari sini." Namun keesokkan harinya lubang kecil itu sudah tertutup kembali seperti sedia kala atas kehendak Allah. Mereka pun bingung tetapi mereka bekerja kembali untuk membuat lubang untuk keluar. Demikian kejadian tersebuat terjadi berulang-ulang. Hingga kelak menjelang Kiamat, di akhir sore setelah membuat lubang kecil pemimpin mereka berkata,“InsyaAllah, Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita pasti bisa keluar dari sini.” Maka keesokan paginya lubang kecil itu masih tetap ada, kemudian terbukalah dinding tersebut sekaligus kegaibannya dari penglihatan masyarakat luar sebelumnya. Dan Kaum Ya’juj dan Ma’juj yang selama ribuan tahun terkurung telah berkembang pesat jumlahnya akan turun bagaikan air bah memuaskan nafsu makan dan minumnya di segala tempat yang dapat mereka jangkau di bumi.
Pada saat Ya'juj dan Ma'juj menyerang pada saat mendekati kiamat nanti dan saat itu masyarakat muslim termasuk Nabi Isa a.s yang telah terpojok di sebuah gunung (tur). Nabi Isa dan Umat muslim lalu bersama-sama berdoa kepada Allah agar terhindar dari masalah akibat perbuatan Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian Allah SWT memerintahkan ulat-ulat yang tiba-tiba menembus keluar dari tengkuk Ya’juj dan Ma’juj yang langsung mengakibatkan kematian mereka secara serentak. WaAllahu 'Alam.

TETAP OPTIMIS !!

http://www.gambarnaruto.com/wp-content/uploads/2015/05/Gambar-Wallpaper-Monkey-de-Luffy-One-Piece-Terlengkap26.jpg