Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Daftar Menu

BERAPA

Bahaya Mengintai Dibalik Jus Buah

Barry Popkin, seorang pakar nutrisi terkemuka dari Universitas North Carolina, memperingatkan tentang bahaya tersembunyi dalam minuman jus buah dan smoothie (jus buah yang di campur bahan lain, seperti coklat kacang dan susu, agar lebih kental), karena kandungan

Membaca al-Qur'an Redam Nyeri Operasi

Membaca al-Qur'an dengan tartil selama 10 menit, dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu yang melahirkan lewat operasi Ceaesar. Demikian menurut hasil penelitian oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhmmadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2009, Hasto Andi Irawan.

Aborsi Meningkatkan Resiko Kematian Wanita

Sebuah penelitian di Denmark menyimpulkan, perempuan yang pernah melakukan aborsi mengalami peningkatan risiko kematian saat melahirkan. Studi yang dimuat di Eurapean Journal of Public Health Nopember 2012 itu mengamati tingkat kematian saat melahirkan selama lebih dari 25 tahin di Denmark..

PAUS BIRU MAKAN DENGAN "TANGAN KANAN"

Paus biru, mamalia terbesar di bumi, lebih sering menyergap buruan dengan sisi kanannya ketika mereka menyantap makanan di laut. Itu artinya, hewan tersebut seperti manusia yang menggunakan tangan kanan untuk memasukkan makanan ke mulut.

Akhir Klaim "Ayam dan Telur"

Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur? Pertanyaan seperti ini sudah terjadi sejak berabad - abad. Tapi kini, jawabanya sudah tersedia. Para ilmuan bulan lalu mengklaim telah memecahkan teka - teki tersebut. Jawabanya, kata mereka, adalah ayam.

Tampilkan postingan dengan label Games. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Games. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Ulil Amri yang Wajib Ditaati

Belakangan ini, tema ulil amri kembali hangat diperbincangkan di sosial media. Meski sudah final dalam kajian para ulama, namun ternyata masih ada sebagian masyarakat kita yang belum mengerti siapa sesungguhnya ulil amri yang harus ditaati itu. Selama ini, banyak di antara mereka yang memahami bahwa ulil amri yang wajib ditaati itu adalah setiap pemimpin yang ada hari ini. Tanpa peduli, apakah pemimpin tersebut menjalankan syariat Allah ataukah tidak.
Di sinilah kemudian kajian tentang ulil amri menjadi tema yang cukup urgen untuk dipahami dengan baik. Pasalnya, ketika definisi ulil amri ini tidak dipelajari dengan utuh dan benar, maka rentetan hukum berikutnya pun—hukum terkait tentang bagaimana memperlakukan pemimpin—berujung pada kesimpulan yang salah.
Jadi, sebelum berbicara lebih jauh tentang persoalan hukum seputar ketaatan kepada penguasa, hal yang penting untuk dikaji terlebih dahulu adalah:
  1. Apa definisi yang dihadirkan oleh para ulama tentang ulil amri.
  2. Apa saja kriteria seseorang bisa disebut sebagai ulil amri atau pemimpin umat Islam.
Definisi ulil amri
Secara bahasa, kata ulil amri terdiri dari dua suku kata yaitu; kata uli yang bermakna memiliki dan al-amr yang bermakna memerintah. Dalam Lisanul Arab, Ibnu Mandzur menguraikan bahwa maksud dari kata uIi adalah memiliki. Dalam bahasa Arab, masih menurut Ibnu Mandzur, ia adalah kata tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu harus berdampingan dengan kata yang lain(idhafah).
Sedangkan definisi al-amr, Ibnu Mandzur mengatakan, “Seseorang memimpin pemerintahan, bila ia menjadi amir bagi mereka. Amir adalah penguasa yang mengatur pemerintahannya di antara rakyatnya.” (lihat; Lisanu Arab: 4/31)
Jadi, menurut istilah, kata ulil amri dapat didefinisikan yaitu; para pemilik otoritas dalam urusan umat. Mereka adalah orang-orang yang memegang kendali semua urusan. (lihat: Al-Mufradat, 25)
Siapakah yang Disebut dengan Ulil Amri?
Para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Kaum muslimin tidak diperolehkan memberontak ulil amri meskipun dalam kepemerintahannya sering berlaku dzalim. Prinsip ini menjadi pegangan yang lahir dari salah satu pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59)
Ibnu Abi ‘Izz dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, berkata, “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) walaupun mereka berbuat dzalim. karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri.” (Lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381)
Namun kemudian muncul salah satu pertanyaan yang cukup mendasar dan perlu dijabarkan secara utuh, yaitu; siapakah yang disebut dengan ulil amri?  Apakah setiap pemerintahan yang ada hari ini bisa disebut ulil amri?
Ketika menjelaskan ayat di atas, para ulama tafsir telah menyebutkan beberapa pandangan tentang siapakah yang dimaksud ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
Imam At-Tabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para ahli ta’wil berbeda pandangan mengenai siapa ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat di atas. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah para penguasa. Sebagian lagi menyebutkan bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan tentang fiqh). Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dan Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar. (Lihat Tafsir at-Thabari, 7/176-182)
Sementara itu Ibnu Katsir, setelah mengutib beberapa pandangan ulama tentang ulil amri, beliau menyimpulkan bahwa ulil amri itu adalah penguasa dan ulama. Lalu beliau mengatakan, “Ayat ini merupakan perintah untuk menaati para ulama dan penguasa. Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman, ‘Taatilah Allah,’ maksudnya adalah ikutilah kitab-Nya. ‘Dan taatilah Rasul’ maksudnya adalah ambillah sunnahnya. ‘Dan ulil amri di antara kalian,’ maksudnya adalah menaati perkara yang diperintahkan oleh mereka berupa ketaatan kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/136)
Perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud ulil amri dalam ayat di atas juga disebutkan dalam kitab-kitab tafsir lainnya. Namun di antara seluruh pendapat tersebut, mayoritas ulama menguatkan bahwa maksud ulil amridalam ayat tersebut ialah para penguasa dan ulama yang memiliki otoritas dalam mengurus urusan kaum muslimin, baik urusan dunia maupun agama mereka.
Imam Asy-Syaukani berkata:
وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية
Ulil amri adalah para imam, penguasa, hakim dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang syar’i, bukan kekuasaan thaghut.”  (Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 1/556)
Imam Nawawi berkata, “Ulil amri yang dimaksud adalah orang-orang yang Allah ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat, inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang yaitu dari kalangan ahli tafsir, fikih, dan selainnya.” (Lihat: Syarh Shahih Muslim 12/222)
Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Ulil amri adalah pemegang dan pemilik kekuasaan. Mereka adalah orang-orang yang memerintah manusia. Perintah tersebut didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuatan (ahli qudrah) dan ahli ilmu. Karena itulah, ulil amri terdiri atas dua kelompok manusia: ulama danumara. Bila mereka baik, manusia pun baik. Bila mereka buruk, manusia pun buruk. Hal ini seperti jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada wanita dari bani Ahmas saat bertanya kepadanya, ‘Apa hal yang menjamin kami akan senantiasa berada di atas perkara (yang baik yang Allah datangkan setelah masa jahiliah) ini?’ Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, ‘Kalian akan senantiasa di atas kebaikan (Islam ) tersebut selama para pemimpin kalian bertindak lurus.” (HR Al-Bukhari) (lihat: Majmu’ Fatawa, 28/170)
Dari penjelasan di atas, setidaknya ada tiga kesimpulan mendasar yang dituliskan oleh para ulama dalam memaknai ulil amripertama: Ulil amri yang wajib ditaati adalah ulil amri dari kalangan orang-orang beriman. Kedua:Ketaatan kepada ulil amri tidak mutlak, namun bersyarat. Yaitu selama bukan dalam perkara maksiatKetiga: Ulil amri yang tidak menjadikan syariat Islam  sebagai hukum dalam pemerintahannya tidak wajib ditaati
Kesimpulan ini selaras dengan tujuan (maqashid) kepemimpinan itu sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa tujuan pokok dari adanya kepemimpinan adalah untuk mengatur kemaslahatan umat,  yaitu dengan menjalankan syariat yang telah Allah gariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, dalam Islam  pemimpin juga disebut sebagai pengganti peran Nabi SAW dalam menjalankan tugas kenabian.
Imam Al-Mawardi berkata, “Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (lihat: Al-Ahkamus Sulthaniyah, 1/3)
Al-Baidhawi juga menyebutkan bahwa, “Kepemimpinan adalah sebagai proses seseorang (di antara umat Islam ) dalam menggantikan (tugas) Rasulullah untuk menegakkan pilar-pilar syariat dan menjaga eksistensi agama, di mana ada kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mengikutinya.” (lihat: Al-Baidhawi, Hasyiyah Syarh Al-Mathali’ , hal. 228, dinukil dari Al-Wajiz fi Fiqh Al-Khilafah karya Shalah Shawi, hal. 5)
Senada dengan itu, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa, “imamah(kepemimpinan) merupakan pengganti (tugas) pemegang (otoritas) syariat dalam melindungi agama dan mengatur urusan keduniawian.” (Al-Muqaddimah, hal. 195)
Jadi dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan ulil amri adalah para pemimpin umat Islam yang mengatur pemerintahannya dengan pedoman hukum Allah, yaitu sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam al-Qur’an dan as-sunnah. Sedangkan para pemimpin negara yang mengatur kepemerintahannya dengan selain hukum Allah, seperti demokrasi, komunis dan sebagainya, maka tidaklah layak disebut sebagai ulil amri.
  1. Ahmad Naqieb, salah satu da’i salafi yang berdomisili di Mesir, ketika ditanya apakah pemimpin demokrasi yang ada saat ini layak disebut ulil amri? Beliau menjawab, “Kita tidak membela kebatilan, jika demokrasi menjadi asas undang-undang sebuah kepemimpinan maka dia tidak disebut dengan waliyu syar’i (baca; ulil amri). Berhukum dengan demokrasi tidak sesuai dengan petunjuk syar’i. Akan tetapi kita menaati peraturannya demi kemaslahatan.”
Lalu dalam rekaman yang lain, beliau juga menjelaskan bahwa yang disebut dengan waliyus syar’i adalah pemimpin yang menegakkan syariat Islam . Inilah pemimpin yang wajib ditaati meskipun dia melakukan kedzaliman atau melampaui batas. Selama ia menegakkan syariat Islam maka dia disebut dengan waliyus syar’i.
Apakah sepanjang masih salat tetap harus ditaati?
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw menyebut kriteria pemimpin yang harus ditaati. Salah satunya adalah selama mereka masih menegakkan shalat. Diriwayatkan dari Muslim dari Auf bin Malik, ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ،
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita menyatakan perang kepada mereka ketika itu?’ beliau menjawab, ‘Jangan! Selama mereka mengerjakan shalat di tengah-tengah kalian’.” (HR. Muslim)
Dalam lafadh lain, Rasulullah saw menyebutkan, “Sungguh akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka, -pen.) dan kalian ingkari (kemaksiatan mereka, -pen.). Barang siapa mengingkari kemaksiatannya, dia terlepas dari tanggung jawab. Dan barang siapa membencinya, dia selamat, tetapi (yang berdosa adalah) mereka yang ridha dan mengikutinya.” Sahabat bertanya, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka mengerjakan shalat lima waktu bersama kalian.” (HR. Muslim)
Hadis di atas menjelaskan bahwa salah satu barometer ketaatan kepada ulil amri adalah selama pemimpin tersebut masih mengerjakan shalat. Sebaliknya, ketika tidak mau melaksanakan shalat maka tidak ada lagi kewajiban bagi rakyat menaatinya. Sebab, shalat adalah salah satu pemisah antara orang mukmin dan kafir. ketika seseorang tidak mau melaksanakan shalat maka dia sudah melakukan salah satu kekufuran.
Perlu dipahami bahwa pada dasarnya seorang pemimpin harus dilengserkan dari jabatannya ketika ia melakukan kekufuran. Tidak mau mengerjakan shalat hanyalah salah satu penyebab kekufuran. Lebih daripada itu, masih banyak bentuk tindakan lain yang menyebabkan seseorang menjadi kafir. Di antaranya adalah ketika ia menolak syariat Allah atau menggantikan undang-undang negara dengan selain hukum Allah. Pemimpin yang tidak menegakkan syariat maka tidak layak disebut ulil amri, bahkan ia pun harus dilengserkan dari jabatannya.
Sehingga dalam banyak hadis, Nabi saw membatasi kewajiban taat kepada pemimpin adalah selama mereka menegakkan hukum Allah. Nabi saw bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun kaliau dipimpin oleh hamba sahaya dari habasyi, dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan kitabullah.” (HR. Tirmidzi, no. 1706, Nasa’i, 7/154, Ibnu  Majah, no. 2328, Ahmad, 6/402 dan Al-Hakim, 4/206, ia berkata hadis shahih dan dishahihkan juga oleh Al-Albani)
Dalam riwayat yang lain dari Ummu Hushain Al-Ahmashiyah r.a ia berkata,“Saya melaksanakan haji bersama Rasulullah Saw di Haji Wada’…Rasulullah SAW menyabdakan banyak hal, lalu saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ حَسِبْتُهَا قَالَتْ أَسْوَدُ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا
“Jika kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya yang berhidung cacat—aku rasa belia mengucapkan,  ‘berkulit hitam’—yang akan memimpin kalian dengan kitab Allah, maka dengar dan taatilah ia’.” (HR. Muslim)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لَا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ
“Urusan kepemimpinan ini akan tetap berada di tangan kaum Quraisy, tidak ada yang menentang mereka kecuali akan Allah seret mukanya ke neraka, asalkan mereka (kaum Quraisy itu) menegakkan agama (hukum syariah).” (HR. Al-Bukhari, no. 3500).
Seluruh hadis di atas jelas menunjukkan bahwa syarat seorang pimimpin yang wajib ditaati adalah ketika ia memimpin dengan berpedoman kepada kitabullah(baca: Syariat Islam). Adapun ketika ia tidak berhukum dengan syariat Islam maka ia tidak wajib didengar dan ditaati. Bahkan kondisi yang demikian menuntut kaum muslimin untuk melengserkannya dari kepemimpinan tersebut.
Sehingga Syaikh Hamid bin Abdullah Al-Ulya, dalam salah satu tulisannya yang di posting dalam situs Islamway.net, dengan tegas menyatakan bahwa syarat keabsahan kepemimpinan yang wajib ditaati adalah ketika mereka berhukum dengan hukum Allah. Karena, Rasulullah saw dalam beberapa riwayat di atas selalu mengaitkan ketaatan kepada pemimpin dengan syarat selama pemimpin tersebut menegakkan hukum Allah.
Bagaimana dengan Pemimpin yang Tidak Menegakkan Hukum Allah
Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa seorang pemimpin layak disebutulil amri ketika ia menegakkan hukum Allah. Ketika itu, rakyat dituntut untuk taat meskipun dia berlaku dzalim terhadap mereka. Namun sebaliknya, ketika mereka mengabaikan hukum Allah, maka ia tidak bisa disebut ulil amri dan rakyat tidak wajib taat kepadanya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kewajiban seorang imam adalah menegakkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla dan melaksanakan amanah. Kalau dia sudah melakukan itu maka wajiblah bagi manusia untuk mendengar dan taat kepadanya serta bersedia bila diperintahkan sesuatu.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 3319 dengan isnad yang shahih).
Imam Qadhy ’Iyadh menjelaskan, ”Seandainya seorang penguasa jatuh dalam kekufuran atau mengubah syariat, serta melakukan bid’ah maka tidak perlu ditaati. Dan wajib atas kaum Muslim untuk melengserkannya.” (Syarah Shahih Muslim, 8/35-36)
Abu Abbas Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Mufhim Syarh Shahih Muslim, (4/39) juga menegaskan, “Kalau pemimpin itu tidak mau menegakkan salah satu pondasi agama seperti penegakan shalat, puasa Ramadhan, pelaksanaan hukum hudud, bahkan melarang pelaksanaan itu, atau dia malah membolehkan minum khamer, zina serta tidak mencegahnya maka tak ada perbedaan pendapat bahwa dia harus dilengserkan.”
Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid menjelaskan, “Para pemimpin yang mengingkari syariat Allah, tidak mau berhukum dengan hukum Allah serta berhukum dengan selain hukum Allah, maka ketaatan kaum muslimin kepadanya telah lepas. Manusia tidak wajib menaatinya. Karena mereka telah menyia-nyiakan tujuan imamah (kepemimpinan). Dimana atas dasar tujuan tersebut ia diangkat, berhak didengar, ditaati dan tidak boleh ditentang.”
Ulil amri berhak mendapatkan itu semua dikarenakan mereka melaksanakan kepentingan (urusan) kaum muslim, menjaga dan menyebarkan agama, melaksanakan hukum-hukum, menjaga perbatasan, memerangi orang-orang yang menolak Islam setelah mendakwahinya, mencintai kaum muslimin dan memusuhi orang-orang kafir.
Jika dia tidak menjaga agama atau tidak melaksanakan urusan kaum muslim maka hak kepemimpinan telah hilang darinya. Umat (dalam hal ini diwakili olehAhlul Halli Wal ‘Aqdi, karena kepada merekalah kembalinya kendali permasalahan) wajib mencopotnya dan menggantinya dengan orang yang mampu merealisasikan tujuan kepemimpinan.
Ketika Ahlis Sunnah tidak membolehkan keluar dari para pemimpin yang zalim dan fasik—karena kejahatan dan kezaliman tidak berarti menyia-nyiakan agama— maka yang dimaksud mereka adalah pemimpin yang berhukum dengan syariat Allah. Kalangan salafus shalih tidak mengenal istilah pemimpin (ulil amri) yang tidak menjaga agama.
Menurut mereka pemimpin seperti ini bukanlah ulil amri. Yang dimaksud kepemimpinan (ulil amri) adalah menegakan agama. Setelah itu baru ada yang namanya kepemimpinan yang baik dan kepemimpinan yang buruk.” (Abdullah bin Abdul Hamid, Al Wajiz Fi Aqidati alSalaf alShâlih Ahli al Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 169)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa tidak semua pemimpin negara saat ini layak disebut ulil amri, karena tugas utama yang paling pokok bagi ulil amriadalah mewujudkan tujuan-tujuan kepemimpinan di dalam Islam , yaitu menegakkan agama dan mengatur rakyatnya dengan syariat Islam . Peran inilah yang kemudian ia disebut sebagai ulil amri yang wajib ditaati dan tidak boleh dilawan. Sedangkan pemimpin sekuler yang tidak menegakkan agama atau bahkan berhukum dengan undang-undang demokrasi, maka jelas tidak pantas untuk disebut ulil amri. Wallahu a’lam bis shawab!

sumber : kiblat net

Minggu, 01 Mei 2016

Khattab, “The Bin Ladin of Chechnya” (3/3)

“Seranglah musuhmu sebelum kalian diserang, kita tidak mau menunggu sampai kita diserbu kemudian menjerit seperti jeritan kaum wanita. Akan tetapi, kapan saja kita mencium rencana musuh akan menyerbu, kita harus menghentikan mereka hingga hilang keberanian mereka untuk merampas negeri kaum muslimin.” (Khattab)
KIBLAT.NET – Pada edisi pertama telah dibahas bagaimana sepak terjang Khattab dari lahir  hingga menjelma menjadi seorang mujahid yang tangguh. Kisah hidupnya dipenuhi kisah-kisah unik nan heroik yang dapat dijadikan teladan bagi para mujahid masa kini.
Pengalaman jihadnya di Afghanistan menjadi modal utama untuk menyongsong medan jihad lainnya. Pada edisi kedua membahas perjuangan Khattab di medan jihad setelah Afghanistan, yaitu Tajikistan dan Chechnya. Di Chechnya inilah Khattab mulai dikenal dan ditakui lawan. Hingga pemerintah Chechnya menyematkan gelar pahlawan nasional padanya.
Akan tetapi, ternyata negera Beruang Merah tidak menyerah begitu saja. Pada edisi terakhir ini akan dibahas perjuangan Khattab di pertempuran Daghestan, perang Chechnya II, strategi dan dakwah Khattab serta syahidnya sang pahlawan karena sebuah pengkhianatan.
Daghestan
Pada awalnya beberapa para petinggi Chechnya menyesalkan terjadinya perang jilid dia ini. Pasalnya mereka menganggap semua itu terjadi karena Khattab memulai persengketaan dengan Rusia di Daghestan pada tahun 1418 H.
Peta Daghestan
Peta Daghestan
Para petinggi ini mengaggap tindakan Khatta terlalu tergesa-gesa dan sembrono hingga menyulut kembali pertempuran. Apakah benar seperti itu? Tidak, Khattab menyerang pos-pos Rusia di Daghestan tidaklah secara serampangan. Justru hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan serangan mendadak dari Rusia.
“Seranglah musuhmu sebelum kalian diserang, kita tidak mau menunggu sampai kita diserbu kemudian menjerit seperti jeritan kaum wanita. Akan tetapi, kapan saja kita mencium rencana musuh akan menyerbu, kita harus menghentikan mereka hingga hilang keberanian mereka untuk merampas negeri kaum muslimin.”Jelas Khattab dengan lantang.
Khattab berkolaborasi dengan Syamil Basayev menyerang Daghestan karena alasan itu. Keputusan itu ia ambil karena ia tahu bahwa Rusia telah bersiap-siap menyerang Chechnya untuk kedua kalinya. Walaupun perjanjian telah ditandatangani di atas kertas, Rusia menganggapnya sebagai angin lalu dan berusaha mencari alasan-alasan untuk menyerang.
Khattab juga mengetahui bahwa Rusia telah menyebar mata-mata di Chechnya dan membuat sebuah ledakan bunuh diri di ibukota Rusia, Moskow. Peledakan itu terjadi pada 14 September 1999 di sebuah apartemen di jantung Rusia. Bom itu memang sengaja dibuat untuk melegalkan serangan kedua yang akan dilancarkan Rusia ke Chechnya.
Bom Rusia
Bom Rusia
Jadi, gerak cepat yang dilakukan Khattab dengan menyerang Daghestan adalah langkah yang tepat. Karena menyerang Daghestan atau tidak, Rusia tetap akan memulai invasi ke Chechnya untuk kedua kalinya. Dalih yang dipakai pihak Rusia untuk menyerang Chechnya adalah memerangi terorisme. Padahal Rusia sendiri yang sebenarnya teroris, menyerang sebuah negara dengan menghalalkan segala cara.
Beberapa prinsip dalam jihad menurut Khattab adalah
  1. Hidup mati jihad tidak tergantung pada hidup mati seorang komandan
  2. Tujuan pertama jihad yaitu menegakkan syariat Islam dan hukum Allah
  3. Tidak ada jalan untuk berunding dengan musuh-musuh Allah
  4. Tidak ada kata istirahat dalam memerangi orang kafir hingga bencana yang menimpa umat Islam hilang.
  5. Komandan bukan jabatan yang menyenangkan
  6. Kesatuan barisan merupakan pondasi pokok di dalam menghadapi musuh yang lalim dan atheis seperti Rusia.
  7. Seorang komandan tidak boleh merasa putus asa dari rahmat Allah, meskipun dalam keadaan yang sangat genting.
  8. Bersikap lembut pada masyarakat dan mementingkan keselamatannya.
Pemikiran dan Dakwah Khattab
Khattab memiliki manhaj dan aqidah salaf. Ia memilik hubungan yang erat dengan para masyayikh seperti, Syaikh Abadullah bin Baz, Syaikh Al-Utsaimin dan Syaikh Hamud Al-Uqla. Ulama-ulama inilah yang menjadi referensi Khattab dalam persoalan jihad, ilmu dan dakwah. Oleh karena itu, kita tidak akan menemukan kebid’ahan dalam jihad Chechnya atau penyimpangan aqidah.
Syaikh Hamud bin Uqla
Syaikh Hamud bin Uqla
Akhirnya hal ini membuat resah kelompok sufi, sehingga mereka memilih merapatkan diri dengan Rusia. Naudzubillah. Khattab menilai, Chechnya merupakan negeri yang subur dalam pembinaan dakwah. Maka ia mulai melakukan aktivis dakwah untuk membentuk basis-basis dakwah dan jihad berdasarkan garis haluan yang shahih. Kemudian ia mendirikan “Ma’had Al-Qauqaz li I’dad Ad-Du’at”. Setiap personal yang bergabung didalamnya sebelum dia diterima di dalam kancah jihad dan wajib mengikuti pembekalan ilmu secara intensif selama dua bulan.
Khattab bersama dengan para mujahidin Chechnya
Khattab bersama dengan para mujahidin Chechnya
Personal yang ingin mengikuti pembekalan ilmu dan jihad semakin bertambah hingga mencapai 400 siswa. Kondisi ini membuat Rusia marah besar. Selanjutnya ia terus mengembangkan upaya dengan mendirikan sekolah untuk menghafal Al-Quran. Dia mengungkapkan, “Kami menyaksikan pengaruh yang signifikan dari kegiatan ini dalam aspek pengorbanan dan kegigihan para mujahidin.”
Syaikh Abu Umar As-Saif
Syaikh Abu Umar As-Saif
Dengan kegiatan ini jihad Chechnya bisa menjadi contoh. Tidak ada perselisihan, perpecahan dan saling mencela. Seluruhnya bersatu di bawah satu pemimpin. Mereka mengangkat seorang mufti agar mereka tidak melakukan pelanggaran, dia adalah Abu Umar As-Saif Al-Khalidi dari negeri Damam, sebelah timur Saudi Arabia. Siapakah dia? Profilnya bisa dilihat di sini.
Perang Chechnya II
Pada bulan Ramadhan 1418 H mujahidin dipimpin oleh Khattab dan Syamil Basayev melancarkan operasi besar atas basis militer Rusia terbesar di Daghestan. Mereka melakukan operasi militer dengan menghancurkan wilayah Daghestan. Peristiwa ini mendorong pemerintah setempat melakukan tekanan terhadap aktivis dakwah dan menangkap para pemimpinnya, hingga sebagian terpaksa mengungsi keluar negeri.
Mujahidin meminta bantuan dan akhirnya bantuan pun datang. Polisi Daghestan bercerai berai dan meminta bantuan kepada tentara Rusia hingga mereka datang dengan kekuatan besar ke kota dan mengepungnya.
Mereka menyerbu dengan pesawat-pesawat tempur dan roket. Maka para mujahidin meminta bantuan pada saudara-saudara mereka di Chechnya yang akhirnya mereka masuk melalui provinsi Butlek dan berhasil menguasai tiga distrik dan pangkalan militer. Rangkaian peristiwa itu terjadi sangat cepat dan pasukan Rusia mengerahkan berbagai senjata berat dan ringan mereka untuk menghadapi mujahidin.
Mujahidin Bergerilya
Mujahidin bergerilya
Sejak saat itu,perang gerilya antara mujahidin dan tentara Rusia terus berlangsung. Mujahidin telah melakukan operasi-operasi militer dengan kemenangan gilang gemilang hanya dalam waktu beberapa tahun saja. Dalam waktu yang singkat itu mereka mampu membuat negara Rusia tidak berdaya, baik dari aspek militer, politik dan ekonomi.
Kemenangan demi kemenangan itu diraih dengan susah payah. Sesuai dengan sunnatullah semua harus diraih dengan pengorbanan,kesulitan, keresahan, kegoncangan hingga mujahidin masuk ke dalam Jannah. Di saat kemenangan menyelimuti mujahidin, Allah menguji mereka dengan syahidnya komandannya yang paling disegani.
Rupanya Rusia telah kehilangan akal hingga menggunakan cara yang picik untuk membunuh Khattab. Bukan dengan tembakan, bukan dengan sabetan pedang, bukan dengan ledakan bom melainkan dengan sebuah racun dan pengkhianatan.
Syahidnya Khattab
Khattab termasuk salah satu komandan atau pemimpin yang syahid karena ulah pengkhianat. Sebut saja Amirul Mukminin Umar bin Khattab syahid di tangan seorang Majusi ketika shalat, dimana sekarang kaum Syiah mengagung-agungkannya orang terlaknat itu, Abu Lu’luah. Bahkan khulafaurrasyidin setelahnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib pun syahid di tangan para pengkhianat.
Penampakan Sang Pengkhianat
Penampakan sang pengkhianat
Jadi, tidak heran jika metode licik itu pun ditiru musuh-musuh Islam abad ini dengan memasukkan pengkhianat ke dalam kubu mujahidin. Ada perbedaan mengenai detail kesyahidan Khattab. Namun, demikian dalam kedua cerita yang berbeda tersebut terdapat kesamaan bahwa sang komandan syahid karena ulah pengkhianat. Pengkhianat itu adalah orang yang telah dipercaya dan dikenal Khattab. Pembunuhan itu dilakukan dengan memberikan sepucuk surat yang telah dibubuhi racun. Akhirnya, Khattan syahid setelah terkena efek racun tersebut. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
Dua pekan sebelum kejadian, salah seorang komandan lapangan dari Arab mengutus seorang kurir untuk menyampaikan sepucuk surat kepada komadan Khattab. Khattab pun mengutus seseorang untuk menerima surat itu. Ternyata utusan yang dipercaya Khattab adalah seorang pengkhianat. Ia membubuhkan racun ke dalam surat itu dan menyerahkan kepada Khattab. Ketika surat itu dibuka dan Khattab menyentuh racun, tidak lebih dari lima menit akhirnya Khattab menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Khattab saat terkena racun
Khattab saat terkena racun
Khattab syahid meninggalkan satu orang istri wanita Daghestan dan tiga orang anak. Sarah usia lima tahun, Shalih usia tiga tahun dan Sajidah usia satu setengah tahun. Pahlawan Nasional Chechnya ini gugur pada usia masih
Sikap Media akan Kesyahidan Khattab
Meskipun Khattab adalah muslim Arab, komandan besar dan terkenal di berbagai belahan bumi. Meskipun dia dikenal oleh para petinggi Amerika di bagian barat dan kaisar Jepang di bagian timur. Meskipun Bush pernah meminta kepadanya pada awal perangnya di Afghanistan agar dia tidak ikut campur, sebab Bush tahu akan kemampuan yang dimiliki sang pahlawan ini. Meskipun Putin selalu dibuat gila olehnya. Namun, tidak ada satu pun channel TV selain Al-Jazeera yang memiliki kepedulian.
Al-Jazeera
Al-Jazeera
Media bungkam dan tidak menyiarkan peristiwa besar itu. Karena mereka telah “menutup mata” dan mengalihkan pandangan sesuai pesanan tuan-tuan mereka. Inilah fakta yang terjadi masa itu dan akan terus berlanjut hingga detik ini. Dimana kezaliman yang mendera salah seorang muslim teraniaya hingga meregang nyawa tidak pernah muncul pada pemberitaan. Media dipenuhi berita-berita tidak bermutu yang memang disengaja sebagai pengalihan isu. Hal itu adalah rahasia umum yang tidak dapat dielakkan lagi.
Selamat jalan wahai pahlawan Islam. Meskipun media enggan menyiarkan kesyahidanmu, namamu akan selalu harum di dada kaum muslimin. Wallahu a’lam bi shawab.
Penulis : Dhani El_Ashim
Sumber:  Buku Khattab Sang Panglima, Abu Anas Ath-Thafi, penerbit Islam Medika

Kamis, 03 Maret 2016

Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC

Halo sobat gamers holic sejati, masih jumpa lagi dengan Ojan di koleksi game terlengkap dan terupdate. Street Fighter X Tekken adalah game fighting / pertarungan yang sudah tidak di ragukan lagi, game yang lebih dikenal dengan nama Tekken ini sudah sangat terkenal sejak dulu kala. Ojan masih inget banger dulu waktu kecil main game Street Fighter melalui PS1 dan juga Tekken yang sudah sangat terkenal ini. Dalam game Street Fighter X Tekken PC kamu akan dapar bermain dan menggunakan karakter karakter keren yang ada pada street fighter dan tekken yang saling beradu kekuatan atau jurus jurus kerennya, ya semua dalam ikon karakter dalam game ini mempunyai karakter dan jurusnya masing-masing yang sangat spesial.

Oke sobat gamers sekarang Ojan mau sedikit mengulas tentang kehebatan game Street Fighter X Tekken ini. Game ini adalah game pertarungan atau duel yang menampilkan berbagai jurus andalan dari masing-masing karakternya. Semua karakter mempunyai jurus yang berbeda. Permainan ini sudah sangat melegenda karena sudah diciptakan dari dulu saat media permainan masih berupa nintendo pun gam eini sudah ada. Grafik yang diberikan dari permainan ini juga selalu mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya teknoligi dan multimedia yang ada. Dari yang dulunya masih sangat sederhana sekarang sudah begitu hampir mirip dengan duel sungguhan. Audio yang diberikan juga tak lepas dari pengembangan sang kreator game ini. Musik dan efek yang diberikan juga sama dengan efek tampilannya dari dulunya yang begitu sederhana sekarang mulai sangat bervariasi dan begitu mengagumkan. 
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Download Game Gratis: Street Fighter X Tekken [Full Version] - PC
Oke gan sepertinya gak butuh berlama-lama lagi buat jelasin soal keseruan game ini, kalian bisa langsung saja download game ini dan rasakan sensasinya. Pilihlah karakter yang kamu sukai dan maksimalkan kehebatannya dengan begitu kalian akan jadi master dalam game ini. Kalahkan semua temanmu dalam game ini. Selamat mencoba dan Happy gaming.

Info Game:
Nama: Street Fighter X Tekken
Genre: Fighting, Action

Publisher: Capcom / Namco
Developer: Capcom
Size: 4.47 GB / split 8 part 600 MB


Spesifikasi minimum:
• OS: Windows XP
• Memory: 1 Gb
• Processor: Intel Core 2 Duo @ 1.8 Ghz / AMD Athlon 64 X2 3800+
• Hard Drive: 10 Gb free
• Video Card: nVidia GeForce 6600 / ATI Radeon X1300
• Video Memory: 256 Mb
• Network: Broadband Internet Connection
• Sound Card: DirectX Compatible
• DirectX: 9.0c
• Keyboard
• Mouse

link: >> Download now <<
Download

TETAP OPTIMIS !!

http://www.gambarnaruto.com/wp-content/uploads/2015/05/Gambar-Wallpaper-Monkey-de-Luffy-One-Piece-Terlengkap26.jpg