Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Daftar Menu

BERAPA

Bahaya Mengintai Dibalik Jus Buah

Barry Popkin, seorang pakar nutrisi terkemuka dari Universitas North Carolina, memperingatkan tentang bahaya tersembunyi dalam minuman jus buah dan smoothie (jus buah yang di campur bahan lain, seperti coklat kacang dan susu, agar lebih kental), karena kandungan

Membaca al-Qur'an Redam Nyeri Operasi

Membaca al-Qur'an dengan tartil selama 10 menit, dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu yang melahirkan lewat operasi Ceaesar. Demikian menurut hasil penelitian oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhmmadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2009, Hasto Andi Irawan.

Aborsi Meningkatkan Resiko Kematian Wanita

Sebuah penelitian di Denmark menyimpulkan, perempuan yang pernah melakukan aborsi mengalami peningkatan risiko kematian saat melahirkan. Studi yang dimuat di Eurapean Journal of Public Health Nopember 2012 itu mengamati tingkat kematian saat melahirkan selama lebih dari 25 tahin di Denmark..

PAUS BIRU MAKAN DENGAN "TANGAN KANAN"

Paus biru, mamalia terbesar di bumi, lebih sering menyergap buruan dengan sisi kanannya ketika mereka menyantap makanan di laut. Itu artinya, hewan tersebut seperti manusia yang menggunakan tangan kanan untuk memasukkan makanan ke mulut.

Akhir Klaim "Ayam dan Telur"

Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur? Pertanyaan seperti ini sudah terjadi sejak berabad - abad. Tapi kini, jawabanya sudah tersedia. Para ilmuan bulan lalu mengklaim telah memecahkan teka - teki tersebut. Jawabanya, kata mereka, adalah ayam.

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Rasulullah, Sosok Sederhana Dan Bersahaja

Rasulullah, Sosok Sederhana Dan Bersahaja



Rasulullah ﷺ adalah sosok yang lengkap. Bukan hanya dari sisi akhlak dan karakternya, tapi juga dari sisi perjalanan hidupnya. Beliau pernah mengalami kemiskinan. Tapi kekayaan juga pernah beliau rasakan. Beliau miskin dengan keridhaan dan kaya dengan rasa syukur. Beliau tidak pernah bersedih dengan dunia yang hilang darinya. Dan beliau tidak berbangga dengan belimpahnya dunia.
Beliau pernah mendermakan kambing sepenuh lembah. Ya, beliau memiliki kambing sepenuh lembah, kemudian beliau berikan hanya kepada satu orang. Di lain hari, di rumahnya tak ada sesuatu untuk dimakan. Beliau zuhud, sederhana, dan bersahaja.
Apa Hakikat Dunia?
Rasulullah ﷺ adalah seorang pendidik yang baik. Beliau akrab dengan para sahabatnya dan sering memberi pemahaman kepada mereka dengan menggunakan media. Suatu hari, beliau ﷺ hendak mengajarkan kepada para sahabatnya –dan tentu juga kepada kita- tentang nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Beliau berikan perumpamaan dengan media sebuah bangkai kambing yang cacat.
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah ﷺ penah melewati pasar bersama para sahabatnya. Kemudian beliau melihat ada bangkai kambing yang kecil kupingnya (cacat). Beliau kepit telinga kambing itu dengan jarinya dan bersabda,
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ
“Siapa yang mau membelinya seharga satu dirham?”
“Kami sama sekali tidak tertarik. Apa yang bisa diperbuat dengannya?” kata para sahabat menjawab tawaran beliau ﷺ.
أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ
“Mau tidak kalau ini jadi milik kalian?” Rasulullah menawarkannya dengan cuma-cuma.
“Demi Allah, seandainya kambing itu hidup, ia pun cacat. Apalagi sekarang dia sudah mati”, para sahabat tetap enggan memilikinya.
فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.” (HR. Muslim, 2957 dan Ahmad, 14402).
Inilah arti dunia di sisi Allah ﷻ, dan juga bagi Rasulullah ﷺ. Kemudian para sahabatnya pun menjadi sosok yang menaruh dunia hanya di tangan mereka, tidak masuk ke dalam hati mereka.
Kumpulkan Untukku di Akhirat
Dari Khaitsamah, dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Jika engkau mau, akan kami berikan perbendaharaan dunia dan kunci-kuncinya, sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, dan seorang pun setelahmu. Kami tidak akan mengurangi jatahmu di sisi Allah”. Beliau ﷺ menjawab, “Kumpulkan itu semua untukku di akhirat”.
Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat,
تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا
“Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.” (QS:Al-Furqaan | Ayat: 10).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha,
تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِىٍّ بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum (yang beliau beli secara tidak tunai).” (HR. Bukhari no. 2916) (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 6/95).
Kisah Dari Bahrain
Rasulullah ﷺ mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarah ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari wilayah tersebut. Saat itu, Rasulullah telah mengikat perjanjian damai dengan wilayah kepulauan Teluk itu. Dan mengangkat al-Ala’ bin al-Hadhrami sebagai walinya. Abu Ubaidah kembali ke Madinah dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, lalu mereka mengerjakan shalat subuh bersama Rasulullah ﷺ
Seusai shalat, Rasulullah beranjak. Kemudian orang-orang mendekati beliau. Melihat hal itu Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda,
“أَظُنُّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدْ جَاءَ بِشَيْءٍ” فقالوا: أجل يا رسول الله. قال: “فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ”.
“Aku kira kalian mengetahui Abu Ubaidah datang membawa sesuatu”. “Benar wahai Rasulullah”, jawab mereka.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkannya pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. al-Bukhari 3791 dan Muslim 2961).
Ketika Rasulullah ﷺ takut kalau peluang-peluang menggapai harta dunia begitu mudah kita raih, beliau takut kita terpedaya, kemudian membuat rugi akhirat kita, bersamaan dengan itu, betapa takutnya kita dengan kemiskinan. Ketakutan yang membuat sebagian dari kita menempuh cara-cara haram untuk mendapatkan kekayaan.
Salah seorang salaf mengatakan, “Seandainya manusia takut masuk neraka sebagaimana mereka takut miskin, pasti dia akan masuk surga.”
Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ
“Tidak pernah keluarga Muhammad ﷺ kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).
Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,
إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ
“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).
Beliau adalah kekasih Allah ﷻ, seandainya kekayaan jadi ukuran kemuliaan, tentu beliau ﷺ adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan kekayaan.
Tidak Pernah Menikmati Roti Sampai Kenyang Hingga Ajalnya
Kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan bersahajanya kehidupan beliau, bukan berarti mengajak seluruh umat Islam hidup miskin. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil tentang sikap bersyukur dan qonaah (cukup). Tentang memaknai hidup, bahwa kehidupan adalah kehidupan akhirat. Tentang tidak sibuk dengan dunia hingga wafat tidak membawa amal, bekal kehidupan yang sesungguhnya. Tentang keluh kesah kita, padahal banyak yang harus kita syukuri dari apa yang kita enyam dan rasa. Karena kekasih Allah ﷻ pun tidak semewah kita. Tentang, tentang, dan tentang lainnya…
ن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يشير بإصبعه مرارًا يقول: والذي نفس أبي هريرة بيده، ما شبع نبي الله صلى الله عليه وسلم وأهله ثلاثة أيام تباعًا من خبز حنطة حتى فارق الدنيا.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah ﷺ dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ شاَةٌ مَصْلِيَةٌ َدَعَوْهُ فَاَبَى اَنْ يَأْكُلُ قاَلَ : خَرَجَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الدُّنْياَ وَلَمْ يَشْبَعْ مِنَ الْخُبْزِ الشَّعِيْرِ.
Juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, suatu hari beliau melewati orang-orang yang sedang menikmati daging kambing yang dipanggang. Mereka mengundang Abu Hurairah, tetapi dia tidak mau memakannya. Abu Hurairah berkata, “Sampai dengan saat wafatnya Rasulullah ﷺ Tidak pernah kenyang oleh roti yang terbuat dari gandum”. (HR. al-Bukhari 5098).
Membaca hadits ini, rasanya kita hendak menangis. Rasulullah ﷺ yang kita cintai hingga demikian perjalanan hidupnya. Sementara kita, tak terhitung berapa kali merasa kekenyangan yang menyesakkan celana. Hingga makanan terbuang sia-sia. Hanya kepada Allah ﷻ kita memohon ampun.
Gurat Tikar Di Pipi
Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah ﷺ, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah ﷺ. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”
Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Rasulullah menjawab,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ
“Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).
Penutup
Rasulullah ﷺ pernah merasakan kekayaan, saat itu beliau berderma. Kedermawanannya bagaikan debu yang tertiup angin. Dan beliau mencintai kesederhanaan. Beliau merasa cukup dalam segala keadaan. Allah ﷻ kumpulkan keadaan tersebut pada diri beliau ﷺ agar semakin sempurna keteladanan yang beliau miliki.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

KEADAAN SAAT TURUNNYA WAHYU

KEADAAN SAAT TURUNNYA WAHYU



Setelah berulang kali mengalami mimpi menjadi nyata, Muhammad ﷺ mulai menyendiri di Gua Hira. Hingga beberapa waktu berlalu tibalah bulan Ramadhan. Beliau ﷺ menemui sesuatu yang mengubah kehidupannya. Beliau berjumpa dengan Jibril.
Jibril di Gua
Jibril masuk ke Gua Hira lalu memerintahkan Muhammad ﷺ untuk membaca. Hingga turunlah surat al-Alaq 1-5. Beliau melihat mimpinya menjadi nyata.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Jibril mendekap Nabi Muhammad ﷺ dan membuat beliau kepayahan? Mengapa beliau merasakan ketakutan?
Di antara faidahnya adalah Nabi ﷺ begitu sadar bahwa keanehan yang beliau alami adalah sesuatu yang hakiki. Beliau merasakan sakit yang bisa dirasakan inderanya. Sehingga tak ada rasa ragu atau menerka itu adalah khayalan atau menduga-duga. Kemudian hal ini juga menjadi pelajaran kepada beliau bahwa tahapan-tahapan wahyu berikutnya akan turun dalam keadaan berat seperti ini. sebagaimana firman Allah ﷻ,
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS:Al-Muzzammil | Ayat: 5).
Kata berat dalam ayat ini bukan hanya mengandung pengertian secara maknawi. Atau hanya berarti makna yang mendalam dan penuh hikmah. Berat tersebut adalah dalam arti sebenarnya. Yang dirasakan oleh panca indera.
Hal ini dipertegas lagi oleh pengalaman sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sedang mendapat wahyu:
لاَيَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah…” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95).
Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum yang menyebutkan ayat itu padaku. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya aku bisa berjihad, pasti aku akan berjihad’. Ia adalah seorang laki-laki buta. Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala menambahkan ayat kepada Rasul-Nya ﷺ. Saat itu paha beliau berada di atas pahaku. Aku merasa begitu keberatan. Sampai-sampai aku khawatir pahaku remuk. Setelah itu dilanjutkan kepada beliau, Allah menurunkan:
غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ
“yang tidak mempunyai uzur” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95). (HR. al-Bukhary, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, 2677, at-Turmudzi 3033, dan an-Nasa-I 4308).
Hadits ini menjelaskan kepada kita perkataan berat yang dimaksud dalam surat al-Muzammil  mencakup berat dalam arti hakiki. Bukan hanya secara maknawi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Demikian juga Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan,
إِنْ كَانَ لَيُوحَى إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَتَضْرِبُ بِجِرَانِهَا
“Apabila Rasulullah ﷺ menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya (ontanya), maka bagian perut onta itu akan menempel ke tanah.” (HR. Ahmad 24912).
Artinya onta itu tak sanggup menahan beban Rasulullah ﷺ yang sedang menerima wahyu. Sehingga ia terduduk sampai perutnya menempel ke tanah.
Dahsyat dan beratnya peristiwa menerima wahyu ini berbeda-beda. Wahyu yang satu bisa lebih berat dari wahyu lainnya. Al-Harits bin Hisyam radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah ﷺ menjawab,
أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
“Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng. Inilah yang terberat bagiku. Dia memberitakan sesuatu dan aku memahami apa yang ia ucapkan. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu dia berbicara padaku dan aku paham apa yang diucapkannya.” (HR. al-Bukhari 3043 dan Muslim 2333).
Jadi, tingkat kesulitan penerimaan wahyu itu berbeda-beda. Dan yang paling berat adalah seperti gemerincing lonceng. Aisyah radhiallahu ‘anha paham betul tentang beratnya wahyu itu. ia menuturkan bagaimana keadaan Nabi ﷺ saat turun wahyu di musim dingin.
وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
“Sungguh aku melihat wahyu turun kepada beliau di hari yang sangat dingin namun beliau tidak merasa kedinginan. Bahkan dari dahi beliau mengeluarkan keringat.” (HR. al-Bukhari 2, at-Turmudzi 3634, an-Nasai- 1006, dan Ahmad 26241).
Di ruang ber-AC dengan suhu 200c saja, kita sudah tidak berkeringat. Sedangkan dinginnya Kota Madinah bisa mencapai 100c bahkan lebih rendah lagi. Dalam kodisi seperti itu, Rasulullah ﷺ berkeringat. Terbayang, betapa berat keadaan yang dialami Nabi ﷺ saat menerima wahyu.
Mengapa Dalam Keadaan Berat?
Membaca hadits-hadits Nabi ﷺ, kita bisa menangkap hikmah mengapa wahyu turun dalam keadaan yang begitu berat. Dan Allah ﷻ lebih mengetahui hikmahnya. Nabi ﷺ mendapat ujian dari segala sisi: keluarga yang wafat meninggalkannya, hartanya, negeri asalnya, sahabat-sahabatnya, sampai rasa sakit yang berliau derita.
إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ
“Sungguh aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat).” (HR. al-Bukhari 5324 dan Muslim 2571).
Dan juga sabda beliau ﷺ,
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ
“Orang yang paling besar musibahnya adalah para nabi, kemudian yang (keshalehannya) mirip (dengan mereka), kemudian yang mirip dengan mereka.” (HR. an-Nasa-i 7482 dll.)
Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baik manusia, rasul yang paling utama. Beliau mendapatkan cobaan hingga saat menerima wahyu. Dengan rasa berat tersebut Rasulullah ﷺ bersabar. Beliau lebih melihat hikmah wahyu tersebut yang merupakan petunjuk yang bermanfaat bagi umatnya. Sampai-sampai beliau rindu dengan perjumpaan Jibril dan mendengar kalam Ilahi itu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bertanya kepada Jibril:
مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَزُورَنَا أَكْثَرَ مِمَّا تَزُورُنَا فَنَزَلَتْ { وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا }
“Mengapa engkau tidak sering lagi mengunjungiku sebagaimana biasanya?” Lalu turunlah ayat: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nyalah segala yang ada di hadapan kita, dan segala yang ada di belakang kita. (Maryam: 64).” (HR. al-Bukhari 4454 dan selainnya).
Penutup
Dengan mengetahui bagaimana keadaan Rasulullah saat menerima wahyu, mudah-mudahan kita semakin mengagungkan Alquran. Dan terbayang setiap kita membaca ayat Alquran bagaimana Rasulullah berjuang keras dan bersabar menahan beratnya menerima wahyu Ilahi untuk disampaikan kepada kita, untuk kita baca dan tadabburi.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com


Read more https://kisahmuslim.com/5562-keadaan-saat-turunnya-wahyu.html

Sabtu, 15 Oktober 2016

KISAH NABI DZULKIFLI AS


NABI DZULKIFLI  AS

Kisah Kehidupan Nabi DZULKIFLI  AS

Nabi Dzulkifli as adalah anak dari Nabi Ayyub as. Nabi Dzulkifli as adalah gelar yang diberikan kepadanya karena beliau menjalankan amanat raja. Beliau adalah seorang yang sabar, sebagaimana tersebut dalam Al-qur'an:
        "Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang - orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang - orang yang sholeh."( Qs. 21 : 85-86 )

           Dzulkifli mempunyai arti sanggup dan yang dimaksud ialah sanggup menjalankan amanat raja. Dengan ceritanya, dinegeri itu ada seorang raja yang sudah tua usianya dan tidak sanggup lagi memegang kerajaan, sedangkan ia tidak mempunyai anak. Raja itu berkata  dihadapan rakyatnya sebagai berikut:

"Siapakah diantara kalian yang sanggup berpuasa pada siang hari, beribadah di malam hari dan tidak marah-marah maka kepadanya akan kuserahkan kerajaan ini, karena aku sudah tua."
Sang raja bertanya kembali :

"Siapakah yang sangggup berpuasa pada siang hari, beribadah di malam hari, dan tidak marah - marah?"

Berdirilah seorang pemuda yang bernama Basyar, dan menjawab:

     "Saya sanggup." Sedangkan rakyat seluruhnya tidak ada seorang pun yang sanggup  seperti Basyar itu. Inilah sebabnya Basyar diberi gelar Dzulkifli, yang artinya orang sanggup.

     Setelah beliau diangkat menjadi raja, beliau mengatur waktunya sedemikian tertibnya, sebagian waktunya untuk mengurus kerajaan dan melayani umatnya, dan sebagian lagi waktunya digunakan untuk tidur. Sedangkan pada siang hari untuk berpuasa dan pada malam hari sebagian untuk beribadah kepada Allah.

        Pada suatu hari ketika beliau hendak tidur, datanglah syaitan menyerupai manusia akan menggodanya tentang masalah yang sedang dihadapinya.

       Karena beliau hendak tidur, diserahkanlah tamu itu kepada wakilnya untuk menerima dan menyelesaikan masalahnya. Rupanya tamunya tidak menyukai jika wakilnya yang menyelesaikan masalahnya, dan mendesak agar raja sendirilah yang menerimanya dan menyelesaikan permasalahanya.

      Karena tamunya tidak mau pergi dan masalahnya ingin diselesaikan segera, maka waktu bagi raja untuk tidur sudah tidak ada lagi. Walaupun demikian raja tidak marah, ia tetap bersabar dan ternyata bahwa tamu itu adalah  syaitan yang sengaja datang menggoda raja.

     Pada suatu hari terjadilah peperangan di negri itu dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah, kemudian raja memerintahkan agar seluruh rakyatnya maju kemedan perang yang sedang terjadi, tetapi rakyatnya membangkang.

     Mereka menjawab : "Hai raja! kami takut berperang karena kami masih senang hidup di dunia, dan jika engkau memintakan kepada Allah untuk menjamin hidup kami barulah kami siap bertempur."

         Mendengar itupun raja tidak marah, dan berdo'a kepada Allah:"Ya Allah saya telah menyampaikan risalah Tuhan kepada mereka, menyuruh mereka berperang, namun mereka enggan dan membangkang akan perintah kami, mereka mempunyai permintaan."

       Kemudian turunlah wahyu kepada Nabi Dzulkifli as:"Ya Dzulkifli Aku telah mengetahui akan permintaan mereka dan Aku mendengar do'amu semuanya akan Aku kabulkan."

        Demikianlah gambaran kesabaran Nabi Dzulkifli as dalam menghadapi segala persoalan, beliau hadapi segala urusan dengan sabar, beliau selalu mematuhi janji yang diberikan oleh raja dahulu yang menyerahkan kerajaannya, dan beliau berpegang teguh akan janji dan kesanggupan untuk bersabar, yakni tidak marah.
Beliau wafat dalam usia 75 Tahun.

Kamis, 22 September 2016

SUARA GAIB DI UDARA

SUARA GAIB DI UDARA


Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang alim ulama ahli sufi,

       yang cukup dikenal keutamaan ahlak dan kemuliaan ilmunya di kalangan ummat islam.

Karena sifatnya yang wara' atau dekat dengan Allah, banyak pengikutnya yang berlebih-lebihan memuliakanya.

     Dicetitakan, suatu hari Syekh Abdul Qadir al-jailani berjalan merantau seorang diri.

 Dalam mengarungi padang pasir yang panas terik itu, ia merasa kehausan.

       Tiba-tiba ia melihat sebuah bejana perak        melayang di udara,

 lalu perlahan-lahan turun kepadanya diselimuti awan di atasnya.

Saat itu, diceritakan terdengar suara gaib di angkasa:

"Hai Abdul Qadir, minumlah isi bejana ini. Hari ini kami telah menghalalkan untukmu semua makanan dan minuman yang selama ini kuharamkan, dan telah kugugurkan semua kewajiban untukmu," bunyi suara gaib itu.

     Sebagai seorang yang arif, Abdul Qadir cukup tahu, bahwa suara yang menyerupai wahyu itu, cuma suara syetan yang menggoda keteguhan imanya.

         
 Maka, marahlah dia dan berkata, "Hai Mal'un (yang terlaknat), enyalah engkau dari sini.

Seungguhnya, aku tiada lebih mulia dibandingkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di sisi Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Kepada Rasulullah saja tidak mungkin berlaku ketentuan semacam itu, apalagi terhadapku! Barang yang diharamkan Allah, selamanya akan tetap haram.

Dan kewajiban hamba kepada-Nya tak pernah digugurkan, termasuk pada diriku," ujarnya tegar.

SEKIAN

Penulis : Taufiq

Dikutip : MUTIARA HIKAYAT

Selasa, 20 September 2016

Atasi Sakit Mata dengan Berwudhu

Sakit Mata dan Air Wudu



Suatu hari Junaid al-Baghdadi sakit mata. Ia diberi tahu oleh seorang tabib jika ingin cepat sembuh dari sakit matanya itu, maka jangan sampai matanya kena air.

    Ketika tabib itu pergi, ia nekad membasuh mukanya untuk salat kemudian tertidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh.

 Saat itu tiba-tiba terdengar suara, "Juaid menjadi sembuh matanya karena ia labih rida kepada-ku.
Seandainya ahli neraka minta kepada-ku dengan semangat ketulusan seperti Junaid, niscaya Aku luluskan permintaanya, "kata suara itu.

    Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan. 

Karena penasaran, ia pun kepada Junaid,"Apa yang telah engkau lakukan?"

      "Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian salat," ujarnya.

   Tabib itu memang beragama Nasrani, dan setelah melihat peristiwa itu ia beriman, seraya berkata:
 "Itu obat dari Tuhan yang mencipatakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan obatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaid-lah tabibnya."

SEKIAN
Penulis ; Taufiq

Dikutip; Mutiara HIKAYAT

Siswa Tertua

Siswa Tua



Pada mulanya as-sakiki adalah seorang pandai besi. Pada suatu hari ia membuat sebuah tempat tinta mungil dari besi yang diberinya tutup indah. Lalu ia menghadiahkanya tempat mungil tersebut kepada raja yang berkuasa saat itu.
    Ketika hadiah itu diserahkan, Sang Raja mengagumi hasil karya as-sakiki itu, akan tetapi ia tidak terlalu mengelu-elukanya atau menunjukkan simpatinya yang besar, seperti yang dibayangkan as-sakiki sebelumnya. Bersamaan dengan itu, masuklah seorang lelaki hendak bertemu dengan raja, sementara as-Sakiki masih ada di situ. Raja bangkit dari singgasananya menyambut laki-laki itu dengan penuh hormat, lalu dia dipersilahkan duduk dengan penuh hormat pula. Melihat itu, as-Sakiki bertanya siapakah gerangan laki-laki itu? Ternyata laki-laki itu adalah seorang ulama.
     
 As-Sakiki berpikir dalam hatinya sekiranya dia tergolong ulama, tentu labih mudah ia memperoleh kemuliaan dan penghargaan seperti yang ia inginkan selama ini. Seketika itu juga dia pun keluar lalu berangkat mencari ilmu. Padahal di waktu itu ia sudah berusia 30 tahun.

       Pada suatu hari gurunya berkata kepadanya, "Barangkali engkau telah berada pada umur yang tak akan berguna lagi engkau belajar. Saya lihat, agaknya otakmu tidak membantumu lagi buat memperoleh ilmu." Namun demikian diajarkan juga kepadanya pelajaran seperti ini:

"Syekh berkata, kulit anjing itu menjdi suci dengan cara disamak." Kata-kata ini diulang-ualangnya kepada as-Sakiki. Namun besoknya ketika as-Sakiki datang diminta gurunya supaya mengulangi pelajaranya yang telah dibacakan kemarin, ternyata as-Sakiki mengatakan, "Anjing berkata,'Kulit Syekh itu menjadi suci dengan cara disamak," sehingga para siswa lain pun terpingkal-pingkal dibuatnya.

    As-Sakiki putus asa dan kecil hati. Kemudian ia pun keluar, pergi ke hutan dan mendaki gunung-gunung, yang di sana ia menemukan sebuah batu karang yang keras . Tampaklah di sana ada lubang bekas tetesan air itu. Dari pengalaman ini ia berkesimpulan; "Hatiku tidaklah lebih beku daripadanya, kenapa mesti tak bisa di tembus oleh ilmu dan pelajaran?"

   As-Sakiki balik lagi kesekolah dengan tekadnya yang bulat, sehingga Allah pun akhirnya membukakan baginya pintu-pintu pengetahuan, dan memperoleh kemajuan melebihi semua orang pada zamanya.

SEKIAN

       "Cerita ini ada kemiripan, bahkan hampir sama persis, dengan kisah imam Ibnu Al- Hajar Al-Atsqalani, seorang ulama hadits yang sangat msyhur."

Penulis: Taufiq

Minggu, 18 September 2016

Pria Pilihan Ummu Kalstum

Pria Pilihan Ummu Kalstum


Jangan mentang-mentang  karena menjadi pejabat tinggi, seorang pengusaha lalu memaksakan kehendaknya untuk menyunting wanita. Itu biasa terjadi pada orang-orang besar di dunia ini, tetapai tidak begitu dengan Umar bin Khattab, amirul   mukminin jazirah Arab.

 Sewaktu menerima lamaran dari khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu untuk Ummu kulstum, adiknya, siti Aisyah binti Abu Bakar sudah merasa suka cita. Calon iparnya seorang khalifah, pengusaha tertinggi waktu itu. Tambah lagi. Kurang apa?

Tetapi apa jawab Ummu kulstum?
"Apakah kakak akan mengawini aku dengan Umar?"
 
 "Ya, dia datang meminangmu," jawab Aisyah.
 
"Sudahkah kakak mengenal betapa pencembururnya dia, serta kasar kehidupanya?"
   "Lalu?"

"Demi Allah, jika kakak memaksaku untuk kawin dengan dia, akan kulaporkan ke Rasulullah. Aku akan menjerit-jerit di kuburnya," kata Ummu Kalstum.
 
 "Menurutmu bagaimana?"

"Aku hanya mau kawin dengan pria Makkah yang mampu memberian kenikmatan dan kebahagiaan hidup padaku."

"Siapa dia?"
"Thalhah bin Abdullah.?"

Mendengar jawaban adiknya itu, repot  jugalah Aisyah, terutama dalam menghadapi Umar, Khalifah II setelah Abu Bakar. Terpaksalah ia minta tolong kepada Amru bin Ash untuk menyelesaikanya.
 
    Maka berangkatlah Amru bin Ash menemui Khalifah Umar.

"Wahai Amirul mukminin. Bagaimana pendapatmu jika aku mencarikan istri untukmu?"
   
 "Mudah-mudahan wanita yang kau tawarkan itu yang aku sepakati hari ini," Jawab Umar.

"Siapa wanita itu?" tanya Amru bin Ash berpura-pura."

    "Ummu kulstum binti Abu Bakr."

"Mengapa anda mau mengawini wanita itu, sedangkan ia setiap hari selalu menyesalkanmu atas kematian Abu Bakar ayahnya?" ujar Amru bin Ash berdiplomasi.

Mendengar jawaban itu, Umar mulai membaca arah pembicaraan Amru bin Ash.

"Hai Amru, apakah kau datang kemari atas suruhan Aisyah?"

      Tanpa bisa mengelak, Amru bin Ash hanya menjawab "Ya!"

"Saya batalkan pinanganku untuk Ummu Kulstum," kata Umar.

      Maka dikawinkanlah Ummu Kulstum dengan Thalhah bin Abdullah, pria pilihanya sendiri.

SEKIAN

Penulis: Miftah

Dikutip: HIKAYAT MUTIARA

  

Kamis, 15 September 2016

RAJA YANG BAIK HATI

RAJA YANG BAIK HATI

Tersebut dalam tarikh ada seorang raja bernama Bahram, ia berhati lembut dan budiman sehingga rakyat cinta kepadanya.

Penduduk hidup makamur, tidak ada yang berbuat curang atau mencuri karena semua kebutuhan mereka terpenuhi. Raja sendiri belum pernah menjumpai satu orang pun yang hidup kekurangan.

Pada suatu hari raja ingin melakukan peninjauan peribadi secara tersamar. Ia berangkat sendirian menaiki kudanya yang dihiasi pelana indah dengan ronce-ronce berujung emas.

Di suatu padang grombolan ia ingin buang air kecil. Tatkala ia sudah turun dari kudanya, ia bingung hendak diikat dimana binatang tungganganya itu lantaran tidak ada sebatang pohon pun berdiri, semua hanya berisi rumput yang menghijau.

Kebetulan ada seorang pengembala compang-camping. Raja terkejut, ternyata masih ada rakyatnya yang melarat.

Ia memanggil pengembala itu dan menyuruhnya memegangi kudanya sementara ia menyelesaikan hajatnya untuk nantinya akan diberi upah yang cukup.

    Pengembala itu dengan patuh menuruti perintah Raja Bahram walaupun ia tidak tahu kalau yang menyuruhnya adalah rajanya sendiri.

Pada saat sang Raja melaksanakan niatnya buang air kecil, ia melihat si pengembala, barangkali kerena miskin dan hidup dalam kekurangan, memotong salah satu ujung ronce pelana kudanya yang berupa emas 24 karat.

Raja Bahram segera menutup matanya sambil memanggil,  "Kemarilah kuda saya, mata saya buta mendadak, mungkin kemasukan binatang kecil. Saya tidak melihat apa-apa dari tadi!".

Pengembala itu gemetar. Ia punya firasat bahwa orang itu pasti memergoki kecuranganya. Maka pada waktu ia mendatangi Raja Bahram sambil membawa kuda Sang Raja,

ia kemudian berkata terpatah-patah, "Tuan, terimalah kembali ujung ronce emas ini. Boleh jadi benda yang buat saya amat berharga namun bagi Tuan hanya menjadi hiasan seekor binatang inilah yang tiba-tiba membuat mata Tuan jadi buta mendadak!"

     
 Raja Bahram pun tersindir. Ia dengan tersenyum menjawab,

" Memang, benda emas itu yang membikin mata saya buta. Karena itu jangan engkau kembalikan kepadaku. Mudah-mudahan di tanganmu akan membuat matamu terbuka untuk membedakan mana yang halal dan yang HARAM"


....SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Penulis : Taufiq

Rabu, 07 September 2016

Rusa dan Anjing

Rusa dan Anjing


Konon, pada jaman dahulu kala, rusa tidak mempunyai tanduk. Justru anjinglah yang mempunyai tanduk panjang dan bercabang-cabang. Pada suatu ketika, musim panas yang sangat panjang tiba, sehingga hampir semua sungai menguap airnya hingga kering. Semua hewan merasa kehausan dan juga kelaparan karena rumput dan tumbuh-tumbuhan lainnya tidak dapat tumbuh.


Kehausan dan kelaparan juga dialami oleh sepasang rusa. Mereka pergi mencari air dengan menyusuri bukit, dan lereng-lereng gunung. Dan akhirnya setelah mencari cukup lama mereka pun menemukan sebuah sungai yang masih ada airnya. Selain sepasang rusa tersebut, sudah ada banyak hewan-hewan lain yang juga berada di situ. “Setelah sekian lama kita mencari, baru sekarang kita menemukan air. Lihatlah, sudah banyak binatang lain yang berkumpul disini.”, kata rusa jantan kepada rusa betina. Rusa betina kemudian memalingkan pandangannya ke segala penjuru. “Iya, memang tempat ini sudah ramai dipenuhi oleh binatang lainnya yang juga kehausan dan kelaparan”, kata rusa betina.

Sepasang rusa itu lalu turun ke sungai. Tiba-tiba rusa betina melihat sesuatu dan berkata kepada rusa jantan, “Coba lihat ke sana! Siapa binatang itu. Betapa tampannya dia. Tanduknya sangat bagus dan menarik. Wah, dia terlihat sungguh gagah.” Si rusa jantan lalu menoleh, dan memperhatikan binatang yang sedang menuruni bukit menuju sungai untuk minum. “Itu adalah anjing. Dia sahabatku namun kita sudah lama tidak berjumpa,” jawab rusa jantan.

Ketika si anjing tiba di pinggir sungai, ia melihat rusa jantan dan istrinya. “Hai, rusa! Sedang apa kau di sini?” tegur si anjing kepada rusa jantan sahabatnya.
“Ya, jangan heran. Sekarang ini air kan sangat sulit diperoleh karena kekeringan, dan makanan pun tak ada. Kami pergi mencari kesana kemari hingga akhirnya menemukan air di tempat ini”, jawab rusa jantan. Kemudian mereka semua turun ke sungai untuk minum. Setelah minum, ketiga hewan itu lalu berpencar kembali.“Mana si anjing itu tadi?” Tanya rusa betina kepada rusa jantan. “Oh, itu di sana! Di bawah pohon, dia sedang beristirahat. Mungkin dia masih merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh”, jawab rusa jantan. “Kalau begitu, ayo kita juga beristirahat disana bersama dengan dia”, ajak si rusa betina kepada suaminya.
“Ah, kamu ini!", tegur rusa jantan kepada rusa betina. "Kenapa dari tadi kamu selalu memandangi si anjing? Sedangkan aku tak lagi kamu perhatikan?” tanya rusa jantan dengan jengkel. “Tentu saja. Aku kagum dengan tanduk si anjing itu. Wah sungguh tak terkatakan indahnya. Oh, sungguh indah sekali”, jawab rusa betina sambil terus memuji-muji tanduk si anjing. “Apakah ia terlihat lebih gagah dariku?” tanya si rusa jantan pada rusa betina istrinya. “Ya, tentu saja tidak. Tetapi yang jelas tanduknya sangat bagus. Jika kau mempunyai tanduk seperti dia, pasti kau akan terlihat jauh lebih gagah daripada si anjing” jawab rusa betina

Rusa jantan lalu terdiam sejenak. Ia pun berusaha mencari akal. “Begini saja,” kata rusa jantan sesaat kemudian. Kalau kamu mau lihat aku bertanduk, nanti aku akan meminjam tanduk si anjing. Aku akan kesana dulu untuk berbicara dengannya.” Rusa jantan itu terpengaruh oleh rayuan istrinya. Ia lalu menemui si anjing.
“Hei anjing temanku. Istriku ingin sekali melihat kita berlomba lari,” kata rusa jantan berbohong. Si anjing yang tak ingin membuat sahabatnya kecewa menyetujui usul itu. Mereka lalu pergi ke tepi padang rumput untuk berlomba lari.

“Apabila saya sudah berdiri dan mengangkat kakiku, maka mulailah kalian berdua lari”, rusa betina memberikan aba-aba. Rusa jantan dan anjing itu kemudian berlomba lari. Dan ternyata, anjing dapat dengan mudah dikalahkan oleh si rusa jantan. Si anjing merasa kecewa karena kekalahannya itu. Sang rusa jantan pun segera menghibur sambil berusaha menipunya. “Begini anjing temanku. Kau tadi dapat kukalahkan karena kau memakai tanduk yang berat sehingga larimu menjadi lambat. Nah, supaya adil bagaimana kalau aku sekarang yang memakai tanduk itu. Lalu kita berlomba lari lagi.”Anjing kemudian menyetujui lagi usul sahabatnya tanpa merasa curiga. Ia lalu melepaskan tanduknya dan memberikannya kepada rusa jantan. Rusa jantan lalu memakai tanduk si anjing yang besar dan bercabang-cabang itu. Anjing dan rusa jantan pun berlomba lagi. Ketika rusa jantan melihat si anjing berlari sekencang-kencangnya di depan, ia pun berlari tetapi berbelok ke arah lain menjauh dari si anjing. Sedangkan si anjing terus berlari dan berlari tanpa menyadarinya. Karena merasa akan menang, anjing baru menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa si rusa jantan sudah menghilang dan tak ada di belakangnya.

Sadar dia telah ditipu, si anjing berlari berbalik arah untuk memburu si rusa jantan dengan marah. Akan tetapi, karena si rusa jantan jauh lebih gesit dan lincah, si anjing tak mampu menyusulnya. Dan akhirnya, tanduk si anjing pun dibawa lari oleh rusa jantan. Karena itulah hingga sekarang, bila anjing melihat rusa jantan, dia pasti akan mengejarnya, karena ingin meminta kembali tanduknya yang dulu dipinjam. Hingga saat ini binatang rusa jantan memiliki tanduk yang indah dan kokoh, yang membuatnya terlihat gagah.Anjing kemudian menyetujui lagi usul sahabatnya tanpa merasa curiga. Ia lalu melepaskan tanduknya dan memberikannya kepada rusa jantan. Rusa jantan lalu memakai tanduk si anjing yang besar dan bercabang-cabang itu. Anjing dan rusa jantan pun berlomba lagi. Ketika rusa jantan melihat si anjing berlari sekencang-kencangnya di depan, ia pun berlari tetapi berbelok ke arah lain menjauh dari si anjing. Sedangkan si anjing terus berlari dan berlari tanpa menyadarinya. Karena merasa akan menang, anjing baru menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa si rusa jantan sudah menghilang dan tak ada di belakangnya.

Senin, 05 September 2016

Asal Mula Rumah Siput

Asal Mula Rumah Siput

Image result for gambar siput dan rumahnyaDahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana. Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon. Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh. Siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.

Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.

Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk. Tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur. Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya. Tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru.

Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku, siput bersorak senang. Aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak akan ada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.

Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan. Karena lelah dan kedinginan, siput masuk ke dalam cangkang itu. Siput merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.

Ketika pagi datang, siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku. Aku akan membawa rumah ini bersamaku kemanapun aku pergi.

Taufiq..: http://taufiqjenius.blogspot.co.id/

Derita jomblo

Kamis, 01 September 2016

KERA DAN AYAM


KERA DAN AYAM

Pada zaman dahulu, ada dongeng menarik tentang persahabatan anatara kera dan ayam. Nampaknya mereka selalu rukun dan damai . Tapi, Kenyataanya tidaklah demikian. Satelah sekian lama mereka bersahabat, barulah terlihat bruruk si kera.
         
            "Hai, Ayam, sahabatku," panggil kera."Sore-sore begini enaknya kita jalan-jalan. Maukah kau pergi bersamaku?"
"Memang kita mau pergi kemana?" tanya ayam.
"Aku akan mengajakmu ke hutan, tempat aku biasa bermain. Di sana tempatnya indah. pasti kamu suka!" ujar si kera seraya membujuk.
           
            Ayam tertarik dengan ajakan si kera. Tanpa rasa curiga, ia mengikuti kera untuk berjalan-jalan di hutan. Hari semakin gelap, perut kera mulai meronta-ronta minta diisi. Saat itulah timbul niat busuk kera untuk mencelakai ayam.
"Hehehe.......untuk apa aku susah-susah mencari makanan. Di depanku saja sudah ada makanan yang sangat lezat,"pikir kera.
   
           Dilihatnya ayam tampak kebingungan masuk ke dalam hutan. Ayam itu tampak besar dan segar. Kera berpikir, jika ayam hendak dimakanya, lebih baik jiak tanpa bulu. Oleh karena itu, ia hendak mencabuti bulu ayam terlebih dahulu.

          Ayam dan kera semakin jauh masuk ke dalam hutan. Saat itu hari makin gelap, kera pun melaksanakan niatnya, ia segera menangkap ayam. Ayam tampak terkejut melihat perlakuan kera. Kera yang jahat itu kemudian mencabuti bulu-bulu si ayam. Dengan sekuat tenaga, ayam meronta-ronta, Ayam mencoba lari dari cengkraman si kera. Setelah berusaha keras tanpa mengenal lelah, ayam melarikan diri dari kera jahat itu. Ia pun berhasil. Ayam berlari sekencang-kencangnya keluar dari hutan.

           Setelah sekian lama Ayam berlari, tibalah ia di rumah sahabatnya yang lain. Ayam tiba di rumah kepiting. Kepiting yang melihat ayam tampak kelelahan membuatya penasaran. Ia pun bertanya, " Wahai Ayam, apa gerangan yang terjadi denganmu? Mengapa nafasmu terengah-engah? Bulu-bulumu rontok semua?"tanya kepiting.

          "Oh kepiting, aku dicelakai oleh sahabatku sendiri si kera. Ia hendak memakanku,"jawab ayam dengan napas yang masih terengah-engah."

         "Kurang ajar ! Betapa teganya kera berbuat seperti ini kepadamu,"ucap kepiting tidak percaya.

         "Memang kurang ajar tega-teganya kera berbuat seperti itu!"sahut Ayam.
 
         "Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kera harus kita beri pelajaran!"ucap kepiting dengan geram.

          Ayam dan kepiting kemudian mengatur siasat untuk memberi pelajaran kepada si kera. Berapa bulan kemudian setelah bulu-bulu ditubuh ayam telah pulih, kepiting den ayam menemui kera. Ayam masih tampak ketakutan melihat si kera.

        Tanpa pikir panjang lagi ayam dan kepiting, mereka berdua langsung menyerang si kera yang sedang menyesal atas kelakuan nya terhadap ayam. Namun, ia berpikir, tidak ada penyesalan di awal cerita, tapi selalu hadir di akhir cerita hidup, pikir kera.

         Kera pun harus menerima dengan iklas pukulan ayam dan jepitan kepiting. Setelah si kera mulai lemas dan tak berdaya, ayam dan kepiting tiba-tiba menghentikan serangannya. karena merasa kasihan dengan si kera.. kera pun di tinggal di hutan.
Tamat.
Bersahabtlah karena allah, bukan bersahabat karena nafsu

Penulis : Tufiq

        

Selasa, 21 Juni 2016

Apa Hikmahnya bersedekah ?

JERNIHNYA SEBUAH KEDERMAWANAN

Seorang laki - laki dari kaum Quraisy bercerita :
    Suatu ketika, Muhammad bin Al- Munkadir dari Bani Taim bin Murrah, seorang penduduk Madinah yang ahli hadits dan sangat zuhud, pergi untuk berhaji bersama kawan - kawannya.
    Sebelum berangkat, ia bersedekah kepada orang - orang hingga semua barang miliknya habis, yang tersisa hanya baju yang dipakainya.
     Dalam perjalanan, rombongan Muhammad bin Al - Munkadir itu singgah di sebuah telaga yang mata airnya sangat jernih.
     "Kita sudah tak memiliki apa - apa, sisa uang kita hanya tinggal satu dirham saja," Kata pimpinan rombongan itu.
     Mengetahui hal itu, Muhammad bin Al - Munkadir meneriakkan bacaan talbiyah yang kemudian diikuti oleh semua kawan - kawanya, bahkan juga semua orang yang singgah di telaga itu.
    Di antara orang - orang yang singgah di telaga itu ada Muhammad bin hisyam, seorang yang pernah di angkat oleh Hisyam bin Abdul Malik sebagai gubernur di Makah dan Taif pada tahun 114 Hijriah. Ketika Al- wadid berkuasa, Muhammad bin Hisyam dipecat dan diturunkan dari jabatanya.
    Setelah mendengar suara talbiyah menggema, Muhammad bin Hisyam berkata :
      "Demi Allah, aku yakin di sekitar telaga ini ada Muhammad bin Al- munkadir. cobalah kalian cari dia."
Beberapa anak buah Muhammad bin Hisyam kemudian mendekati rombongan yang meneriakkan bacaan talbiyah, dan kenyataanya memang benar bahwa Muhammad bin Al- Munkadir berda di antara mereka.
      Orang - orang yang di beri tugas itu kemudian kembali dan melapor kepada Muhammad bin Hisyam, bahwa Muhammad bin Al- Munkadir memang berada di tempat itu.
       "Aku kira dia telah kehabisan bekal dan uang. Bawalah uang sebanyak 400 dirham dan berikan kepadanya," Perintah Muhammad bin Hisyam kepada anak buahnya....
 SEKIAN 

Subahanallah maha suci allah dengan segala rahmat nya dan apa yang telah direzkikanya...Muhammad al-Munkadir sangat patut kita contohi, betapa dermawananya ia , karena ketika ia telah menginfakkan seluruh hartanya dan hanya tersisa baju yang di pakainya ,,ternyata Allah mengganti denga sebanyak mungkin...

Besedakah tidak membuat anda miskin, malah sebaliknya anda akan kaya tergantung seberapa iklasnya anda memberi, karena Allah SWT, tidak melihat nilai angka harta yang kita beri, melainkan Allah SWT melihat keiklasan seseorang,,

Jangan sampai hartamu menjadi beban timbangan mu di akhirat nanti, sedekahkanlah harta anda selagi masih ada kesempatan, jangan katakan nanti mulailah dari sekarang,,sebab tidak ada yang bisa menjamin anda dapat berinfak/bersedekah di lain waktu....

Penulis   : Taufiq


Kamis, 16 Juni 2016

Keadilan nabi Muhammad SAW.

MENENTUKAN SIAPA YANG LEBIH BERHAK

  Ketika Muhammad saw. berumur 35 tahun, terjadilah banjir besar yang sempat meruntuhkan dinding ka'bah. Kemudian kaum Quraisy membongkar seluruhnya, dan membangun kembali.
    Setelah selesai pembangunan ka'bah itu, kaum Quraisy ingin meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula. Lalu timbullah pertentangan di kalangan pembesar - pembesar Quraisy mengenai siapa yang lebih berhak meletakkan Hajar Aswad ketempatnya semula.
    Mereka saling berdebat dan hampir terjadi pertikaian di kalangan mereka. "Hai kaum ku, janganlah kalian saling bertentangan, buatlah peraturan antara kamu. Dan siapa pun harus rela menerima dan menyetujui peraturan itu," kata Abu Umayah bin Muqhirah, ia merupakan orang tertua dan berpengaruh di lingkungan Quraisy.
    Akhirnya mereka membuat keputusan yang disetujui bersama, yaitu barang siapa yang lebih dulu masuk ke masjidil - haram, berhak meletakkan Hajar Aswad.
     Ternyata yang pertama kali masuk ke masjidil - haram adalah Muhammad. Mereka merasa puas dan setuju, karena dianggapnya Muhammad adalah orang jujur dna benar dalam segala perkataan, cerdas, dan berpikiran cemerlang.
     "inilah Muhammad AL- Amin, kami rela kepadanya,"Kata pemimpin - pamimpin Quraisy itu.
Muhammad kemudian mulai melaksanakan tugasnya. 
    Dibentangkan sorbannya, kemudian memanggil empat orang pemimpin Quraisy untuk memegang empat sudut sorban itu, kemudian ia meletakkan Hajar Aswad itu di tengah sorban dan memerintahkan kepada mereka untuk membawa ke dalam ka'bah.
   Hajar Aswad itu lalu diangkat sendiri oleh Muhammad dari sorban dan diletakkan pada tempatnya semula. 
Dengan inisiatif Muhammad saw. itu selesailah kesulitan yang hampir menimbulkan pertikaian di kalangan pemimpin - pemimpin Quraisy....SEKIAN...


subahanallah begitu adilnya Nabi Muhammad SAW. dalam menegakkan keadilan...
Marilah kita sebagai ummatnya sudah sepatunya kita mengikutinya. Dalam menegakkan keadilan

Penuis       : Taufiq

Selasa, 14 Juni 2016

SEBERAT APA MASALAH ITU ?

BERAT SEBUAH  GELAS

   Seorang bijak sedang memberikan pelajaran kepada murid - muridnya tentang cara menghadapi tekanan dan masalah kehidupan. Dia mengangkat sebuah gelas yang penuh dengan air, lalu bertanya kepada murid - muridnya, "Berapakah berat gelas ini? Apakah kemampuan setiap orang berbeda - beda ketika mengangkat gelas ini, walau beratnya sama?".
        Mereka pun memberikan jawaban yang berbeda - beda dalam memperkirakan berat gelas. Namun, mereka sepakat bahwa kemampuan masing - masing orang membawa gelas itu tentu berbeda satu sama lain.
        "Ada satu hal penting yang kalian lupakan dalam hal ini", tutur orang bijak kepada muridnya. Dia pun melanjutkan perkataanya seraya bertanya, " Adakah perbedaan antara orang yang mengangkatnya beberapa jam, dengan orang yang mengangkatnya beberapa menit saja?" para murid serentak menjawab, "Tentu berbeda. Orang yang mengangkatnya berjam - jam akan merasa tanganya capek, letih, dan pegal."
       Kemudian orang bijak itu pun menjelaskan, "kalau begitu, persoalannya tidak terletak pada berat gelas ini. Rasa capek dan letih terkait erat dengan lama waktu mengangkat gelas ini. Orang yang mengangkat hanya beberapa menit tidak akan merasa capek dan pegal, tapi orang yang mengangkatnya selama beberapa jam tentu dia akan merasa capek dan pegal. Bila dia mengangkatnya seharian, boleh jadi dia akan pingsan. Gelas ini beratnya sama dan tidak berubah. Namun, kemampuan serta lama waktu kita mengangkatnya, akan menentukan apa yang kita rasakan."
      begitu juga dalam kehidupan ini. Masing - masing kita memiliki masalah. Boleh jadi masalah itu sebenarnya ringan, tetapi akan menjadi terasa berat bila terlalu lama memikirkanya, atau selalu memikirkanya. Cobalah untuk melupakannya. Toh, dengan ada atau tidak adanya masalah, kehidupan ini akan terus berjalan. Lihatlah ke depan, lupakan persoalan, lakukan sesuatu yang baru sehingga kita tidak terperangkap lagi dalam persoalan yang sama.....SEKIAN...


HIKAMAH
   Masalah adalah sebuah hal yang paling ringan jika kita tidak mamikirkanya , melainkan kita mencari solusi untuk menyelesaikanya. Adalah kesaalahan terbesar bagi seseorang yang ketika mempunyai masalah, malah pasrah dan mimikirkanya terus - menerus, sehingga ia jatuh ke dalam jurang penyesalan..

Penulis     : M. Taufiq .H


Senin, 13 Juni 2016

Logika dan suratan

ANTARA LOGIKA DAN SURATAN ( TAKDIR )

     Ada dua orang yang sedang berpergian, katakanlah namanya si "Logika" dan satu lagi si "Suratan". Keduanya mengendarai mobil, tetapi di tengah perjalanan, mereka kehabisan bahan bakar, sehingga terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
     Seiring dengan perjalanan waktu yang tidak bisa diperlambat dan di percepat. Keduanya pun memutuskan untuk istrahat. Si Logika berkata kepada si Suratan, "Saya akan tidur di bawah pohon di pinggir jalan itu malam ini, hingga pagi hari, dan kita akan lanjutkan perjalanan esok pagi". Namun, si Suratan memutuskan bahwa dia akan tidur di tengah jalan."Gila kamu! itu artinya kamu cari mati!," cegah si Logika pada si Suratan. "Mungkin saja malam ini ada mobil yang melintas di jalan ini dan akan melindasmu," lanjutnya mengingatkan si Suratan.
     "Tidak, saya tetap akan tidur di tengah jalan," tegas si Suratan dengan mantap."Mungkin saja bila ada mobil yang melintas di jalan ini, maka dia akan berhenti ketika melihatku tidur di tengah jalan, lalu membangunkanku. Dan kita akan bisa mendapatkan tumpangan untuk melanjutkan perjalanan kita," lanju si Suratan memberi alasan kepada si Logika.
         Benar. akhirnya malam itu si Logika tidur di bawah pohon, sedangkan si Suratan tidur di tengah jalan. Beberapa jam kemudian, sebuah mobil besar melintas. Ketika si sopir melihat ada seseorang yang sedang tidur di tengah jalan, dia pun berusaha menghentikan laju mobilnya. Namun, ternyata mobil itu sangat sulit berhenti, sebab lanjunya cukup kencang, sehingga dia membanting setir ke arah pohon di pinggir jalan. si Logika yang sedang tidur di bawah pun meninggal tertabrak mobil tersebut, sedangkan si Suratan yang tidur di tengah jalan tadi tetap segar bugar.
     Itulah fenomena faktual yang ada. Terkadang "Suratan" berlaku pada seseorang dalam kehidupan ini, walaupun hal itu berlawanan dengan "Logika". Banyak orang mengatakan dengan istilah "Tidak logis". Namun, bila sudah menjadi suratan takdir, maka tidak ada yang bisa menghindarinya.....SEKIAN..

HIKMAH
    Ingatlah. Terkadang keterlambatan kita dalam berpergian, bisa jadi kebaikan untuk kita. Terkadang, keterlambatan atau cepatnya menikah, akan menjadi berkah tersendiri. Terkadang, tertolaknya lamaran kerja di suatu perusahaan akan menjadi kebaikan dalam hidup kita. Terkadang, engkau membenci sesuatu padahal itu kebaikan buatmu.
  "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi ( pula ) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". ( al-Baqarah: 216 ) 

Penulis    : M. Taufiq .H

TETAP OPTIMIS !!

http://www.gambarnaruto.com/wp-content/uploads/2015/05/Gambar-Wallpaper-Monkey-de-Luffy-One-Piece-Terlengkap26.jpg